Pagi itu udara sangat cerah. Di langit tak menampakkan adanya mendung. Marina di pagi itu sedang asyik menyiram bunga. Pekerjaan rutin pagi hari setelah melepaskan keberangkatan suaminya ke kantor. Pagi itu Marina mengenakan kaos kuning dengan celana pendek putih. Rambutnya di ikat pakai pita merah. Marina kelihatan cantik dan mempesona. Apalagi kulit pahanya yg putih mulus dapat menggetarkan jantung lelaki yg melihatnya.
Sebuah kereta berhenti di depan pagar halaman. Seorang gadis turun mengenakan celana jeans dan kemeja merah menyala. Gadis itu adalah Rita. Melangkah mendekati Marina.
"Selamat pagi," tegur Rita sambil meneliti wajah Marina. Cantik sekali. Pantas Djohan tergila gila gadis ini, kata hati Rita. Dari ujung rambut sampai ujung kaki Marina diperhatikannya. Sungguh tiada yg cacat. Perasaan iri menyelinap dalam dada.
"Selamat pagi," balas Marina ramah.
"Apa benar anda yg bernama Marina?" tanya Rita.
"ye, saya Marina,"
"Saya adalah bekas sahabat Djohan semasa sekolah dulu."
"Oooh ye?" Marina tersenyum ramah.
Rita mengulurkan telapak tangannya untuk mengajak berkenalan. Marina dengan senang hati menyambut uluran tangan gadis itu. Mereka berjabatan tangan.
"Jom masuk, kita bicara di dalam," pelawa Marina.
Memang itu yg diharapkan Rita. Pelawaan Marina disambut dengan gembira. Dia mengikuti Marina melangkah masuk dan duduk di ruang tamu. Rita melayangkan pandanganya ke seluruh isi rumah. Perabotan yg ada di ruang itu serba mewah.
"Sayang sekali Abang Djohan baru saja berangkat ke kantor," kata Marina.
"Jam berapa biasanya dia pulang?"
"Tak tentu. Kadang kadang sore, tapi kadang kadang juga malam."
Rita menghela napas berat.
"Penting sekali ingin bertemu abang Djohan?" tanya Marina.
"Ah, tak.Cuma ingin berbincang dan melihat kemajuannya. Sebab saya ingin membuktikan kabar,kalau Djohan sekarang jadi direktur dan hidupnya kaya raya.Ternyata kabar itu memang benar.Sungguh hebat Djohan. Saya tak menyangka bisa seperti ini."
Marina hanya tersenyum.
"Djohan tinggal di sini sudah lama?" tanya Rita.
"Baru 2bln"
"Anda juga tinggal di sini?"
"Saya istri abang Djohan," kata Marina jujur.
Bagai ada petir di siang bolong yg tiba tiba menyambar Rita. Hampir dia berteriak histeris mendengar keterangan Marina.Tapi dengan sadar Rita cepat cepat menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.Marina termangu melihat perubahan yg drastis dialami Rita.Tapi sebelum Marina bertanya, gadis itu sudah buru buru lari meninggalkan ruang tamu.
"Tungguu!" teriak Marina.
Rita tak menghiraukan lagi teriakan Marina. Dia terus berlari menuju kereta. Masuk ke dalam kereta sambil membanting pintu. Marina menghampiri Rita yg telah siap menghidupkan mesin kereta. Dia menegur Rita dengan perasaan tak menentu.
"Siapakah sebenarnya anda?" tanya Marina.
Tak terdengar jawaban dari Rita. Gadis itu menghidupkan mesin kereta dan langsung tancap gas.Sementara Marina bingung memandang berlalunya gadis yg tak di kenalnya.
*****
kereta Honda Jazz memasuki halaman sebuah rumah mewah. Seorang gadis yg berwajah kesal turun.Pintu kereta dibanting keras. Langkah kakinya begitu cepat memasuki rumah. Dengan perasaan hancur dilemparkannya beg ke atas meja.
Rosmari yg melihat gelagat anak gadisnya jadi heran.Segera diikuti langkah Rita menuju ke bilik.Gadis itu membanting dirinya di atas tempat tidur. Menangis sejadi jadinya.Rosmari mendekati anak gadisnya dan membelai rambut Rita.
"Apa yg terjadi, anakku?" tanya ibunya lembut. Namun pertanyaan itu tak segera dijawab oleh Rita. Tangis Rita semakin memilukan Rosmari tambah bingung.
"Hentikanlah tangismu, dan ceritakan pada mama apa yg telah terjadi," bujuk Rosmari penuh perhatian.
"Mama...Djohan, Djohan telah menikah...," kata Rita tersendat sendat di sela isak tangisnya.
Rosmari terkejut mendengar ucapan anaknya.
"Djohan telah menikah? Dengan siapa dia menikah?"
"Dengan Marina...,"
"Ooooh...Tuhan. Ternyata anak itu tak tahu membalas budi," gumam Rosmari dengan kesal.
"Djohan membelikan rumah baru di pondok indah," kata Rita.
"Papamu harus tahu hal ini. Sudah pasti Djohan menggunakan uang perusahaan untuk membelikan rumah itu."
"Pasti mama. Pasti Djohan melakukan itu. Demi perempuan itu dia berbuat korupsi!"
"Biar papamu yg akan menyelesaikan hal ini,"
Rosmari bergegas meninggalkan bilik Rita. Dia menjumpai suaminya yg sedang membaca buku di bilik. Melihat kemunculan istrinya, Burnama bingung. Kerna wajah Rosmari merah padam.
"Pa, Djohan benar benar kurang ajar!" marah Rosmari.
"Kenapa?"
"Ternyata dia telah menikah dengan Marina tanpa setahu kita. Djohan juga membelikan rumah Marina di pondok indah."
"Haeiii, kau tak mengigau, ma?"
"Tak. Rita yg memberi tahu. Rita baru saja mengeceknya."
"Gila! Benar benar gila! Kalau memang benar, Djohan harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Aku tak akan berdiam diri!" ujar Burnama dengan muka merah padam.
"Telphone Djohan suruh datang ke sini!" perintah Burnama.
Rosmari buru buru keluar dari bilik dan menelphone Djohan.
Aku bukan permata penghias mahkota,aku hanya serpihan kaca yang terbuang,aku bukan pujangga yang kau puja,aku hanya penulis murahan,yang terbiar di tepi jalan,karyaku hanya inspirasi picisan,jangankan hendak menulis 10 judul dalam 1 jam,satU bAitpun aku haBiskan berbulan bulan,aku tidak memiliki kepandaian menulis,aku cuma ada keinginan.
Ucapan saya
Selamat datang d'blog saya,yang serba sederhana.
blog ini terbina untuk meluahkan perasaan dan mengisi waktu yang kosong. kepada penulis blog yang telah menyalin atau mencetak karya yang ada dalam blog ini,tanpa seizin saya,di harap me-delete daripada blok anda.
Terima kasih,,atas kerja samanya n perhatianya,,saya sangat menghargainya..
blog ini terbina untuk meluahkan perasaan dan mengisi waktu yang kosong. kepada penulis blog yang telah menyalin atau mencetak karya yang ada dalam blog ini,tanpa seizin saya,di harap me-delete daripada blok anda.
Terima kasih,,atas kerja samanya n perhatianya,,saya sangat menghargainya..
Jumat, 31 Desember 2010
Kurengkuh Duka Nestapamu! 8
Kata kata Rita bagai tamparan pedas di muka Djohan. Seketika itu Djohan menundukkan muka dan merasakan kepedihan hati.
"Itu yg ingin kusampaikan padamu," kata Rita sembari berdiri. Tanpa menoleh lagi Rita berjalan meninggalkan Djohan. Lelaki yg duduk di belakang meja kerja itu semakin tertunduk. Giginya gemeletuk menahan geram. Sedang kedua matanya berkaca kaca. Dipukulnya meja itu keras keras.
"Terlalu! Alangkah kejamnya hidup ini!" pekik Djohan.
Dia menjatuhkan kepala di permukaan meja. Menangis terisak isak dalam kepedihan. Seolah olah kehidupan yg diperoleh sekarang merupakan siksaan yg teramat berat. Dia harus membalas budi dengan menghancurkan kebahagiaan.
*****
Sebelum jam kantor habis, Djohan pulang. Wajahnya murung ketika meninggalkan kantor. Kereta yg dikendarai meluncur di keramaian kota. Hatinya pedih memikirkan kata kata Rita. Aku terhormat kerna budi kebaikan keluarga Burnama. Alangkah pahit balas budi ini. Harus mengorbankan kebahagiaan hanya untuk membalas budi. Sedang aku tak mencintai Rita. Cintaku telah kuberikan seluruhnya kepada Marina. Dapatkah aku menjalani hidup bersama Rita? Lalu menyembunyikan Marina di balik kenyataan? Tidak! Aku harus berani menghadapi resiko apapun. Aku tak ingin menikah lagi. Istriku tetap Marina. Hanya dialah istriku yg paling setia. Tekad Djohan begitu keras. Dia berkeras untuk tetap mempertahankan kebahagiaan yg direguknya sekarang.
Kereta Djohan terus meluncur di atas jalan raya. Sejak Djohan keluar dari kantor, sama sekali tak menduga diikuti sebuah kereta taxi. Ternyata yg ada di dalam kereta taxi itu tak lain Rita. Gadis itu memerintah sopir taxi mengikuti kemana perginya kereta Djohan. Rita memang cerdik. Dia sengaja naik taxi supaya tak menimbulkan kecurigaan Djohan. Dan bisa mengetahui tempat tujuan calon suaminya itu.
Rita merasa lega setelah mengetahui kereta Djohan memasuki sebuah rumah mewah di Pondok Indah. Dia sudah menduga Djohan mempunyai gadis simpananan. Maka sesampainya di rumah, hal itu diadukan pada kedua orang tuanya.
"Sudah jelas kuketahui keadaan Djohan sekarang!" kata Rita sambil menjatuhkan diri di kursi.
Rosmari heran melihat anak gadisnya baru saja pulang sudah uring uringan. Mukanya memperlihatkan begitu kesal. Hal itu juga mendatangkan tanda tanya bagi Burnama.
"Ada apa dengan Djohan?" tanya ibunya.
"Djohan mempunyai gadis simpanan!" jawab Rita.
"Apa?!" Burnama kaget dan melemparkan surat kabar yg tengah dibacanya. Memandang wajah Rita.
" Djohan mempunyai gadis simpanan,!" tanya ayahnya.
"Ye."
"Dari mana kau tahu?"
"Baru saja aku mengikuti Djohan."
"Tahu pasti rumah gadis simpanannya itu?"
"Ye."
"Pantas...," gumam Burnama.
"Jangan cepat menuduh Djohan, kalau belum tahu pasti buktinya," Rosmari meragui keterangan anak gadisnya.
"Tapi saya sudah menaruh curiga, ma," Rita berkeras.
"Cobalah dicek. Kau pura pura datang kerumah gadis itu. Jangan terus terang mengatakan dirimu calon istri Djohan. Kau bisa berpura pura bekas sahabatnya dulu. Nah......,cara itu bisa mengorek hubungan Djohan dengan gadis itu," ucap Burnama.
Usul yg diajukan ayahnya membuka pikiran Rita. Itu memang cara terbaik untuk bisa mengetahui keadaan Djohan yg sebenarnya. Apakah di rumah itu benar benar tempat tinggalnya. Dua kemungkinan itu menyebabkan Rita ingin segera mengeceknya. Siapa tahu Djohan memang mempunyai gadis simpanan. Atau barangkali dugaanya salah, kerna Djohan sering menginap di rumah itu, kerna ada kawan pria yg menjadi sahabat.
*****
"Itu yg ingin kusampaikan padamu," kata Rita sembari berdiri. Tanpa menoleh lagi Rita berjalan meninggalkan Djohan. Lelaki yg duduk di belakang meja kerja itu semakin tertunduk. Giginya gemeletuk menahan geram. Sedang kedua matanya berkaca kaca. Dipukulnya meja itu keras keras.
"Terlalu! Alangkah kejamnya hidup ini!" pekik Djohan.
Dia menjatuhkan kepala di permukaan meja. Menangis terisak isak dalam kepedihan. Seolah olah kehidupan yg diperoleh sekarang merupakan siksaan yg teramat berat. Dia harus membalas budi dengan menghancurkan kebahagiaan.
*****
Sebelum jam kantor habis, Djohan pulang. Wajahnya murung ketika meninggalkan kantor. Kereta yg dikendarai meluncur di keramaian kota. Hatinya pedih memikirkan kata kata Rita. Aku terhormat kerna budi kebaikan keluarga Burnama. Alangkah pahit balas budi ini. Harus mengorbankan kebahagiaan hanya untuk membalas budi. Sedang aku tak mencintai Rita. Cintaku telah kuberikan seluruhnya kepada Marina. Dapatkah aku menjalani hidup bersama Rita? Lalu menyembunyikan Marina di balik kenyataan? Tidak! Aku harus berani menghadapi resiko apapun. Aku tak ingin menikah lagi. Istriku tetap Marina. Hanya dialah istriku yg paling setia. Tekad Djohan begitu keras. Dia berkeras untuk tetap mempertahankan kebahagiaan yg direguknya sekarang.
Kereta Djohan terus meluncur di atas jalan raya. Sejak Djohan keluar dari kantor, sama sekali tak menduga diikuti sebuah kereta taxi. Ternyata yg ada di dalam kereta taxi itu tak lain Rita. Gadis itu memerintah sopir taxi mengikuti kemana perginya kereta Djohan. Rita memang cerdik. Dia sengaja naik taxi supaya tak menimbulkan kecurigaan Djohan. Dan bisa mengetahui tempat tujuan calon suaminya itu.
Rita merasa lega setelah mengetahui kereta Djohan memasuki sebuah rumah mewah di Pondok Indah. Dia sudah menduga Djohan mempunyai gadis simpananan. Maka sesampainya di rumah, hal itu diadukan pada kedua orang tuanya.
"Sudah jelas kuketahui keadaan Djohan sekarang!" kata Rita sambil menjatuhkan diri di kursi.
Rosmari heran melihat anak gadisnya baru saja pulang sudah uring uringan. Mukanya memperlihatkan begitu kesal. Hal itu juga mendatangkan tanda tanya bagi Burnama.
"Ada apa dengan Djohan?" tanya ibunya.
"Djohan mempunyai gadis simpanan!" jawab Rita.
"Apa?!" Burnama kaget dan melemparkan surat kabar yg tengah dibacanya. Memandang wajah Rita.
" Djohan mempunyai gadis simpanan,!" tanya ayahnya.
"Ye."
"Dari mana kau tahu?"
"Baru saja aku mengikuti Djohan."
"Tahu pasti rumah gadis simpanannya itu?"
"Ye."
"Pantas...," gumam Burnama.
"Jangan cepat menuduh Djohan, kalau belum tahu pasti buktinya," Rosmari meragui keterangan anak gadisnya.
"Tapi saya sudah menaruh curiga, ma," Rita berkeras.
"Cobalah dicek. Kau pura pura datang kerumah gadis itu. Jangan terus terang mengatakan dirimu calon istri Djohan. Kau bisa berpura pura bekas sahabatnya dulu. Nah......,cara itu bisa mengorek hubungan Djohan dengan gadis itu," ucap Burnama.
Usul yg diajukan ayahnya membuka pikiran Rita. Itu memang cara terbaik untuk bisa mengetahui keadaan Djohan yg sebenarnya. Apakah di rumah itu benar benar tempat tinggalnya. Dua kemungkinan itu menyebabkan Rita ingin segera mengeceknya. Siapa tahu Djohan memang mempunyai gadis simpanan. Atau barangkali dugaanya salah, kerna Djohan sering menginap di rumah itu, kerna ada kawan pria yg menjadi sahabat.
*****
Kamis, 30 Desember 2010
Kurengkuh Duka Nestapamu! 7
Kereta terus meluncur menuju kerumah Marina. Hati Djohan risau memikirkan keadaan Marina yg tinggal di rumah hanya ditemani pelayan. Sudah tentu Marina kesepian sekali tanpa ditemani Djohan. Tidur seorang diri. Apakah Marina sudah tidur? Djohan melihat jam tangan. Malam sudah larut. Jarum jam menunjukkan pukul satu pagi. Jalanan lenggang dan sepi. Hawa dingin mengambang bercampur embun malam.
Rumah itu sepi. Seluruh lampu di dalam rumah telah padam.kereta Djohan berhenti di depan pagar halaman. Lalu Djohan turun dari kereta dan menekan bell di tembok pintu. Seorang pelayan berlari lari menuju ke pintu pagar halaman sambil membawa kunci.
"Marina sudah tidur, makcik?" tanya Djohan.
"Belum tuan. Puan sejak tadi menunggu," sahut makcik Giyem sambil membukakan pintu.
Hati Djohan perih mendengar keterangan makcik Giyem. Dia kembali ke kereta untuk membawa masuk kereta itu ke dalam garaj. Begitu Djohan turun dari kereta dan hendak masuk kedalam rumah, di ambang pintu Marina sudah berdiri menyambutnya.
"Baru pulang, bang?" tegur Marina penuh perhatian.
Djohan memeluk Marina penuh kasih sayang. Dia merasa terharu melihat kesetiaan istrinya. Hampir saja Djohan tak kuasa membendung air mata.
"Jangan terlalu memaksakan diri bang, nanti abang jatuh sakit," Marina menasehati Djohan.
Lelaki itu tak bisa mengucapkan sepatah kata. Dia hanya bisa memeluk pundak istrinya membimbing ke bilik. Membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur rasa terharu. Mencium bibir istrinya dengan kasih sayang.
"Marina, aku sangat mencintaimu," kata Djohan sendu.
"Bang...aku bahagia merasakan besarnya cinta dan kasih sayangmu."
"Aku takut kebahagiaan yg kita rasakan sekarang akan hancur."
"Sifatmu sekarang banyak berubah, bang. Abang seperti takut dibayangi hal yg tak jelas bagiku. Apa sebenarnya yg abang simpan di hati?"
"Cintaku padamu begitu besar dan dalam. Mungkin hal itu yg menyebabkan aku takut mengalami kehancuran. Takut berpisah denganmu," kata Djohan penuh perasaan
"Selama kita tetap berlaku setia. Tak mungkin kebahagiaan kita akan hancur. Apakah kedua orang tua abang telah tahu pernikahan kita?"
Djohan menggeleng.
"Abang takut mereka akan memisahkan kita?"
Djohan mengangguk risau.
"Aku rasa kalau Abang Djohan benar benar mencintaiku, tak mungkin kita bisa terpisahkan."
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Mereka tak dapat memisahkan kita. Siapapun tak akan bisa memisahkan kita!" kata Djohan setengah memekik. Lalu memeluk tubuh Marina erat erat. Mencium bibir Marina bertubi tubi. Sepertinya mereka berdua tak nak terpisahkan. Sekalipun bumi ini bergoncang. Dunia lebur jadi debu.
*****
Djohan terbangun ketika sinar matahari telah menerobos masuk melalui jendela bilik. Cepat cepat Djohan melompat turun dari tempat tidur.
Astaga, sudah jam sebelas siang! Kenapa Marina tak membangunkan aku? Ah, bisa kantoi. Rita pasti sudah menunggu di kantor. Djohan memegangi kepalanya. Rasa berdenyut denyut menyerang kedua pelipisnya. Kerna tak cukup tidur dan terlalu banyak yg dipikirkan.
Dia mesti cepat cepat kekantor. Kalau keadaan seperti ini terus berlarut larut bisa menimbulkan kucurigaan Rita. Bergegas Djohan pergi mandi dan mengenakan pakaian. Menyambar beg dan mengambil kunci kereta, lalu berlari lari menuruni anak tangga. Di ruang tengah, Djohan berpapasan dengan istrinya.
"Tak sarapan dulu bang?" tegur Marina
"Sudah kesiangan, Marina. Aku harus cepat sampai di kantor." kata Djohan tergesa gesa.
Diciumnya kening Marina sekejap. Djohan buru buru melangkah ke garaj. Menghidupkan mesin kereta dan memanasi sebentar, lalu meluncurkan. Hati Djohan risau dan gelisah di perjalanan menuju ke kantor.
Benar saja ketika Djohan sampai di kantor. Seorang gadis sudah duduk menunggunya di ruang kerja. Gadis itu adalah Rita. Djohan agak gugup menghadapi gadis itu.
"Semalam aku terjaga dari tidur dan mencarimu ternyata kau tak ada lagi. Kau pergi ke mana?" tanya Rita sambil menatap Djohan tajam.
Djohan kebingungan. Jadi salah tingkah.
"Aku...aku," sahut Djohan gugup.
"Pulang kerumahmu?"
"A.a... a... a" Djohan kebingungan memberi jawaban.
"Aku telah menelphone rumahmu semalam, kau tak pulang. Katakan terus terang semalam kau tidur di mana?" desak Rita.
"Di...rumah teman," sahun Djohan risau.
"Teman wanita yg bernama Marina?"
Denyut jantung Djohan bagai terhenti mendengar ucapan Rita. Dari mana Rita tahu hubungannya dengan Marina? Djohan berpikir dengan hati gelisah dan risau.
"Dari siapa kau tahu?"
Rita hanya tersenyum sinis. Sementara Djohan berharap semoga Rita tak mengetahui keadaan sekarang. Keadaan bahwa Djohan telah memperistri Marina.
"Tak perlu kujelaskan dari siapa aku tahu. Tapi aku merasa kecewa kerna semalam kau pergi tanpa memberi tahu. Jangan kecewakan papa dan mama yg telah menjadikan dirimu seorang terhormat, bang Djohan."
kata kata Rita bagai tamparan pedas di muka Djohan. Seketika itu Djohan menundukkan muka dan merasakan kepedihan hati.
"Itu yg ingin kusampaikan padamu," kata Rita sembari berdiri.
Rumah itu sepi. Seluruh lampu di dalam rumah telah padam.kereta Djohan berhenti di depan pagar halaman. Lalu Djohan turun dari kereta dan menekan bell di tembok pintu. Seorang pelayan berlari lari menuju ke pintu pagar halaman sambil membawa kunci.
"Marina sudah tidur, makcik?" tanya Djohan.
"Belum tuan. Puan sejak tadi menunggu," sahut makcik Giyem sambil membukakan pintu.
Hati Djohan perih mendengar keterangan makcik Giyem. Dia kembali ke kereta untuk membawa masuk kereta itu ke dalam garaj. Begitu Djohan turun dari kereta dan hendak masuk kedalam rumah, di ambang pintu Marina sudah berdiri menyambutnya.
"Baru pulang, bang?" tegur Marina penuh perhatian.
Djohan memeluk Marina penuh kasih sayang. Dia merasa terharu melihat kesetiaan istrinya. Hampir saja Djohan tak kuasa membendung air mata.
"Jangan terlalu memaksakan diri bang, nanti abang jatuh sakit," Marina menasehati Djohan.
Lelaki itu tak bisa mengucapkan sepatah kata. Dia hanya bisa memeluk pundak istrinya membimbing ke bilik. Membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur rasa terharu. Mencium bibir istrinya dengan kasih sayang.
"Marina, aku sangat mencintaimu," kata Djohan sendu.
"Bang...aku bahagia merasakan besarnya cinta dan kasih sayangmu."
"Aku takut kebahagiaan yg kita rasakan sekarang akan hancur."
"Sifatmu sekarang banyak berubah, bang. Abang seperti takut dibayangi hal yg tak jelas bagiku. Apa sebenarnya yg abang simpan di hati?"
"Cintaku padamu begitu besar dan dalam. Mungkin hal itu yg menyebabkan aku takut mengalami kehancuran. Takut berpisah denganmu," kata Djohan penuh perasaan
"Selama kita tetap berlaku setia. Tak mungkin kebahagiaan kita akan hancur. Apakah kedua orang tua abang telah tahu pernikahan kita?"
Djohan menggeleng.
"Abang takut mereka akan memisahkan kita?"
Djohan mengangguk risau.
"Aku rasa kalau Abang Djohan benar benar mencintaiku, tak mungkin kita bisa terpisahkan."
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Mereka tak dapat memisahkan kita. Siapapun tak akan bisa memisahkan kita!" kata Djohan setengah memekik. Lalu memeluk tubuh Marina erat erat. Mencium bibir Marina bertubi tubi. Sepertinya mereka berdua tak nak terpisahkan. Sekalipun bumi ini bergoncang. Dunia lebur jadi debu.
*****
Djohan terbangun ketika sinar matahari telah menerobos masuk melalui jendela bilik. Cepat cepat Djohan melompat turun dari tempat tidur.
Astaga, sudah jam sebelas siang! Kenapa Marina tak membangunkan aku? Ah, bisa kantoi. Rita pasti sudah menunggu di kantor. Djohan memegangi kepalanya. Rasa berdenyut denyut menyerang kedua pelipisnya. Kerna tak cukup tidur dan terlalu banyak yg dipikirkan.
Dia mesti cepat cepat kekantor. Kalau keadaan seperti ini terus berlarut larut bisa menimbulkan kucurigaan Rita. Bergegas Djohan pergi mandi dan mengenakan pakaian. Menyambar beg dan mengambil kunci kereta, lalu berlari lari menuruni anak tangga. Di ruang tengah, Djohan berpapasan dengan istrinya.
"Tak sarapan dulu bang?" tegur Marina
"Sudah kesiangan, Marina. Aku harus cepat sampai di kantor." kata Djohan tergesa gesa.
Diciumnya kening Marina sekejap. Djohan buru buru melangkah ke garaj. Menghidupkan mesin kereta dan memanasi sebentar, lalu meluncurkan. Hati Djohan risau dan gelisah di perjalanan menuju ke kantor.
Benar saja ketika Djohan sampai di kantor. Seorang gadis sudah duduk menunggunya di ruang kerja. Gadis itu adalah Rita. Djohan agak gugup menghadapi gadis itu.
"Semalam aku terjaga dari tidur dan mencarimu ternyata kau tak ada lagi. Kau pergi ke mana?" tanya Rita sambil menatap Djohan tajam.
Djohan kebingungan. Jadi salah tingkah.
"Aku...aku," sahut Djohan gugup.
"Pulang kerumahmu?"
"A.a... a... a" Djohan kebingungan memberi jawaban.
"Aku telah menelphone rumahmu semalam, kau tak pulang. Katakan terus terang semalam kau tidur di mana?" desak Rita.
"Di...rumah teman," sahun Djohan risau.
"Teman wanita yg bernama Marina?"
Denyut jantung Djohan bagai terhenti mendengar ucapan Rita. Dari mana Rita tahu hubungannya dengan Marina? Djohan berpikir dengan hati gelisah dan risau.
"Dari siapa kau tahu?"
Rita hanya tersenyum sinis. Sementara Djohan berharap semoga Rita tak mengetahui keadaan sekarang. Keadaan bahwa Djohan telah memperistri Marina.
"Tak perlu kujelaskan dari siapa aku tahu. Tapi aku merasa kecewa kerna semalam kau pergi tanpa memberi tahu. Jangan kecewakan papa dan mama yg telah menjadikan dirimu seorang terhormat, bang Djohan."
kata kata Rita bagai tamparan pedas di muka Djohan. Seketika itu Djohan menundukkan muka dan merasakan kepedihan hati.
"Itu yg ingin kusampaikan padamu," kata Rita sembari berdiri.
Kurengkuh Duka Nestapamu! 6
Kereta yg dikemudikan Djohan berhenti di sebuah Restauran mewah. Banyak juga pengunjung di restauran itu. Namun ketika Djohan dan Rita masuk, belum terlihat kedua orang tuanya. Mungkin sedang dalam perjalanan menuju kesini, bisik hati Rita. Rita mengajak Djohan mengambil tempat duduk di sudut ruangan.
"Papa dan mama masih belum datang," gumam Rita
"Kita tunggu saja."
"nak makan apa?" tanya Rita.
"Nasi goreng."
"Minumnya?"
"Coca Cola"
Rita menulis pada selembar kertas dan di berikan kepada pelayan. Tak lama kemudian datanglah kedua orang tua Rita. Kedatangan mereka disambut lambaian tangan Rita manja. Lalu kedua orang tua itu menghampiri anak gadisnya.
"Selamat siang, ayah. Selamat siang, ibu." Djohan melemparkan senyum
"Sudah lama menunggu?" tanya Burnama
"Baru lima menit."
kedua orang tua itu mengambil tempat duduk berhadapan dengan Rita. Rita duduk berdampingan Djohan. Semua menampakkan wajah cerah dan gembira.
"Ayah dan ibu nak pesan apa?" tanya Djohan.
"Sama seperti kalian," jawab Burnama
keharmonisan begitu tercipta di dalam keluarga Burnama. Mereka menikmati makan siang penuh kebahagiaan. Hal itu menjadikan perhatian pengunjung restauran.
"Ada hal yg serius ingin kubicarakan di sini, Djohan." kata Burnama setelah makan siang selesai.
Pandangan Djohan begitu risau. Tapi budi kebaikan keluarga Burnama mengikat dirinya sehingga tak kuasa menolak.
"Saya hanya pasrah," kata Djohan lemah
"Nah, itu baru anak yg baik. Tak sia sia aku mendidikmu sampai menjadi orang jutawan. Semua harta dan perusahaan akan kulimpahkan atas nama kalian berdua," ujar Burnama gembira sekali.
"Jadi bulan depan kalian akan melangsungkan pernikahan. Ibu gembira sekali, Djohan."
Rosmari menuturkan dengan wajah berseri seri. Apa yg di harapkan akan menjadi kenyataan.
Selesai merundingkan rencana Pernikahan antara Djohan dan Rita, mereka meninggalkan restauran. Djohan tak kembali ke kantor ikut pulang ke rumah calon mertua. Selama di perjalanan hatinya hancur berkeping keping. Ingat Marina. Istrinya pasti akan menderita akibat keputusan yg telah di sanggupi oleh Djohan. Djohan akan menikah dengan Rita. Hampir saja tak dapat membendung jatuhnya air mata. Ingin dia menangis menyesali kenyataan yg akan dijalani. Sebab ia tak kuasa menolak permintaan kedua orang tua Rita.
*****
imbas kembali perbincangan di restauran:
"Tentang apa, ayah?"
"Sejak dulu ayah merencanakan perkawinan kalian berdua. Aku ingin melihat anakku dapat berbahagia. Juga menghendaki perusahaanku tetap berjalan lancar. Rita sudah berhasil menyelesaikan studynya di Jerman. Dan Djohan pandai mengelola perusahaan sampai sekarang tambah maju. Kalian adalah pasangan yg ideal yg kelak akan hidup bahagia. Maka untuk lebih baiknya kalian berdua akan segera kami nikahkan," ucap Burnama.
Denyut jantung Djohan bagaikan terhenti. Napasnya sesak. Tapi dia tetap berusaha untuk tenang menghadapi kenyataan.
"Bagaimana, Djohan?" tanya Burnama.
Djohan tertunduk sambil berpikir.
"Berilah saya waktu untuk berpikir, ayah."
"Apalagi yg kau susahkan?" tanya ibu Rita.
" Menghendaki pesta besar besaran? Okey." Burnama menimpali.
"Bukan itu..."
"Apa Djohan,katakanlah."
"Berilah saya waktu yg cukup panjang."
"Nak tunggu apalagi pakai mengulur waktu?"
Djohan terpojok. Dia tak bisa memberikan alasan yg tepat.
"Rencana ayahmu sudah baik, Djohan." Rosmari menasehati Djohan.
*****
Tengah malam Djohan turun dari pembaringan pelan pelan. Diperhatikan gadis yg sejak tadi tidur di sisinya. Sudah tertidur pulas, kata hati Djohan. Di ambilnya pakaian yg tergantung di kapstok dan membuka kimono yg menutupi badannya. Selesai mengenakan pakaian, Djohan dengan berhati hati meninggalkan bilik itu.
Keadaan di dalam rumah itu hening dan sepi. Seluruh penghuninya sudah tertidur lelap. Djohan berjalan pelan pelan menuju garaj kereta.
Ketika Djohan hendak membuka pinta garaj sesosok tubuh menghampiri.
"Siapa itu!" terdengar suara cukup lantang. Djohan terkejut dan menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata penjaga rumah yg belum tidur.
"Ssssstt!" desis Djohan sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir.
"Ooh, tuan Muda."
"Tolong bantu aku mengeluarkan kereta," kata Djohan lirih.
"Nak ke mana malam malam,Tuan?" tanya penjaga itu.
"Sudah jangan banyak tanya. Cepat bantu membukakan pintu halaman dan mendorong kereta.
"Baik, tuan."
penjaga itu lari menuju pintu halaman. Di bukanya gembok pintu pagar halaman. Setelah membuka pintu halaman lebar lebar, penjaga itu kembali ke garaj dan mendorong kereta Djohan. Kereta yg didorong penjaga itu bergerak maju perlahan lahan. Jantung Djohan berdenyut tak teratur. Keringat dingin mengucur di sekujur badannya.
"Cepat tutup kembali pintu halaman. Kalau ditanya tuan atau siapapun cakap tak tahu," perintah Djohan setelah kereta berada di jalan.
"Ya, tuan." penjaga itu mengangguk dan menutup pintu pagar halaman.
Djohan menghidupkan mesin kereta. Buru buru dia melarikan kereta meninggalkan tempat itu. Djohan menghela napas lega.
"Papa dan mama masih belum datang," gumam Rita
"Kita tunggu saja."
"nak makan apa?" tanya Rita.
"Nasi goreng."
"Minumnya?"
"Coca Cola"
Rita menulis pada selembar kertas dan di berikan kepada pelayan. Tak lama kemudian datanglah kedua orang tua Rita. Kedatangan mereka disambut lambaian tangan Rita manja. Lalu kedua orang tua itu menghampiri anak gadisnya.
"Selamat siang, ayah. Selamat siang, ibu." Djohan melemparkan senyum
"Sudah lama menunggu?" tanya Burnama
"Baru lima menit."
kedua orang tua itu mengambil tempat duduk berhadapan dengan Rita. Rita duduk berdampingan Djohan. Semua menampakkan wajah cerah dan gembira.
"Ayah dan ibu nak pesan apa?" tanya Djohan.
"Sama seperti kalian," jawab Burnama
keharmonisan begitu tercipta di dalam keluarga Burnama. Mereka menikmati makan siang penuh kebahagiaan. Hal itu menjadikan perhatian pengunjung restauran.
"Ada hal yg serius ingin kubicarakan di sini, Djohan." kata Burnama setelah makan siang selesai.
Pandangan Djohan begitu risau. Tapi budi kebaikan keluarga Burnama mengikat dirinya sehingga tak kuasa menolak.
"Saya hanya pasrah," kata Djohan lemah
"Nah, itu baru anak yg baik. Tak sia sia aku mendidikmu sampai menjadi orang jutawan. Semua harta dan perusahaan akan kulimpahkan atas nama kalian berdua," ujar Burnama gembira sekali.
"Jadi bulan depan kalian akan melangsungkan pernikahan. Ibu gembira sekali, Djohan."
Rosmari menuturkan dengan wajah berseri seri. Apa yg di harapkan akan menjadi kenyataan.
Selesai merundingkan rencana Pernikahan antara Djohan dan Rita, mereka meninggalkan restauran. Djohan tak kembali ke kantor ikut pulang ke rumah calon mertua. Selama di perjalanan hatinya hancur berkeping keping. Ingat Marina. Istrinya pasti akan menderita akibat keputusan yg telah di sanggupi oleh Djohan. Djohan akan menikah dengan Rita. Hampir saja tak dapat membendung jatuhnya air mata. Ingin dia menangis menyesali kenyataan yg akan dijalani. Sebab ia tak kuasa menolak permintaan kedua orang tua Rita.
*****
imbas kembali perbincangan di restauran:
"Tentang apa, ayah?"
"Sejak dulu ayah merencanakan perkawinan kalian berdua. Aku ingin melihat anakku dapat berbahagia. Juga menghendaki perusahaanku tetap berjalan lancar. Rita sudah berhasil menyelesaikan studynya di Jerman. Dan Djohan pandai mengelola perusahaan sampai sekarang tambah maju. Kalian adalah pasangan yg ideal yg kelak akan hidup bahagia. Maka untuk lebih baiknya kalian berdua akan segera kami nikahkan," ucap Burnama.
Denyut jantung Djohan bagaikan terhenti. Napasnya sesak. Tapi dia tetap berusaha untuk tenang menghadapi kenyataan.
"Bagaimana, Djohan?" tanya Burnama.
Djohan tertunduk sambil berpikir.
"Berilah saya waktu untuk berpikir, ayah."
"Apalagi yg kau susahkan?" tanya ibu Rita.
" Menghendaki pesta besar besaran? Okey." Burnama menimpali.
"Bukan itu..."
"Apa Djohan,katakanlah."
"Berilah saya waktu yg cukup panjang."
"Nak tunggu apalagi pakai mengulur waktu?"
Djohan terpojok. Dia tak bisa memberikan alasan yg tepat.
"Rencana ayahmu sudah baik, Djohan." Rosmari menasehati Djohan.
*****
Tengah malam Djohan turun dari pembaringan pelan pelan. Diperhatikan gadis yg sejak tadi tidur di sisinya. Sudah tertidur pulas, kata hati Djohan. Di ambilnya pakaian yg tergantung di kapstok dan membuka kimono yg menutupi badannya. Selesai mengenakan pakaian, Djohan dengan berhati hati meninggalkan bilik itu.
Keadaan di dalam rumah itu hening dan sepi. Seluruh penghuninya sudah tertidur lelap. Djohan berjalan pelan pelan menuju garaj kereta.
Ketika Djohan hendak membuka pinta garaj sesosok tubuh menghampiri.
"Siapa itu!" terdengar suara cukup lantang. Djohan terkejut dan menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata penjaga rumah yg belum tidur.
"Ssssstt!" desis Djohan sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir.
"Ooh, tuan Muda."
"Tolong bantu aku mengeluarkan kereta," kata Djohan lirih.
"Nak ke mana malam malam,Tuan?" tanya penjaga itu.
"Sudah jangan banyak tanya. Cepat bantu membukakan pintu halaman dan mendorong kereta.
"Baik, tuan."
penjaga itu lari menuju pintu halaman. Di bukanya gembok pintu pagar halaman. Setelah membuka pintu halaman lebar lebar, penjaga itu kembali ke garaj dan mendorong kereta Djohan. Kereta yg didorong penjaga itu bergerak maju perlahan lahan. Jantung Djohan berdenyut tak teratur. Keringat dingin mengucur di sekujur badannya.
"Cepat tutup kembali pintu halaman. Kalau ditanya tuan atau siapapun cakap tak tahu," perintah Djohan setelah kereta berada di jalan.
"Ya, tuan." penjaga itu mengangguk dan menutup pintu pagar halaman.
Djohan menghidupkan mesin kereta. Buru buru dia melarikan kereta meninggalkan tempat itu. Djohan menghela napas lega.
Kurengkuh Duka Nestapamu! 5
Malam harinya Djohan kembali ke rumah dengan tubuh lemas dan langkah kakinya terseok seok. Melangkah menghampiri rumah Marina. Dalam kegelapan Malam itu, rumah yg berdiri megah itu nampak sunyi. Lampu di ruang depan sudah padam. Begitu Djohan hendak menekan bell, pintu rumah sudah terbuka. Rupanya suara kereta mengingatkan Marina jika Djohan pulang.
"Baru pulang, bang?" sapa Marina sembari tersenyum.
"Ya," sahut Djohan lemah. Dia terus melangkah masuk ke ruang dalam.
Marina mengikuti langkah Djohan. Di ruang tengah Djohan menghenyakkan pantat di kursi. Matanya kuyu. Wajahnya sendu dan kehilangan gairah. Marina memperhatikan sikap Djohan yg agak aneh.
"Malam ini abang nampak gelisah, ada sesuatu yg abang pikirkan?" tanya Marina lembut.
Djohan menggeleng lemah.
"Jangan menyembunyikan sesuatu Bang. Kalau terjadi apa apa aku pun turut memikulnya."
"Tak apa apa, hanya...."
"Hanya apa, bang?"
Djohan menatap wajah Marina dalam dalam. Pancaran mata Djohan mencerminkan hatinya dengan tulus mencintai Marina. Takut kehilangan Marina. Takut juga kebahagian yg dirintihnya sekarang akan hancur berantakan.
"Sungguh sungguhkah kau mencintaiku?" tanya Djohan resah.
"malam ini abang nampak aneh?"
"Ya. Kerna aku takut cintamu akan berubah. Kau akan meninggalkan aku."
Marina memeluk Djohan. Menjatuhkan kepalanya di dada Djohan yg bidang. Mengusap usap kemeja suaminya dengan lembut.
" kenapa abang masih ragu padaku? Belum cukupkah cinta dan kasih sayang yg kuberikan pada abang? Katakanlah bang, apa yg harus kulakukan untuk membuktikan cintaku. Katakanlah," desak Marina.
"Kau tak akan meninggalkan aku, walau apapun yg akan terjadi."
"Tentu, bang. Aku akan menjadi istri yg setia."
"Marina," panggil Djohan lembut.
"Hurmmm?"
Belaian tangan Djohan di rambut Marina, membuat Marina memejamkan mata meresapi kasih sayang suaminya.
"Aku takut kebahagiaan kita akan hancur."
"Siapa yg akan menghancurkan?" tanya Marina.
Djohan tak menjawab melainkan mencium bibir Marina mesra. Dibalasnya ciuman Djohan dengan hangat. Djohan mengajak Marina masuk kedalam bilik.setelah mematikan lampu, beranjaklah mereka ke atas tempat tidur. Malam semakin sunyi. Suasana di daerah kaum elite itu sunyi senyap. Sesekali angin malam berhembus menyusup celah celah lubang jendela. Menyebarkan aroma bunga sedap malam.
*****
Djohan berangkat ke kantor kesiangan. Kerna hampir semalaman dia tak dapat memejamkan mata. Keresahan yg bercokol di hatinya terus saja menyergap nyergap. Kedatangan Rita menimbulkan problem yg tak kecil artinya. Djohan resah kerna kebahagiaan yg dirasakan hidup bersama Marina akan terbentuk pada kehancuran.
Ketika Djohan baru saja masuk keruang kerja, dia tersentak. Rita sudah duduk menunggunya. Gadis itu melempar senyum manis pada Djohan. Tapi mata Rita membaca mimik wajah Djohan yg risau.
"Sudah lama menunggu?" tegur Djohan.
"Satu jam yg lalu," sahut Rita sambil menghembuskan asap rokok.
Djohan merasa malas memandang sikap Rita yg sudah jauh berbeda. Agaknya kehidupan orang orang barat telah menjelma dalam dirinya. Sebelah kakinya dinaikkan ke atas meja tamu sambil asyik menghisap rokoknya. Djohan sebentar sebentar menarik napas panjang.
"Aku baru saja menelpon ke rumahmu,tapi pelayan memberi tahu semalam kau tak pulang. Tidur di mana?" tanya Rita.
"Di rumah teman."
Djohan duduk di belakang meja kerja. Membuka beg dan mengeluarkan catatan Penting.
"Seorang Wanita?"
"Bukan."
Rita tersenyum sinis. Matanya terus memandang bekas tanda di leher Djohan. Sementara Djohan tak menduga ada bekas tanda di lehernya. Dia asyik membaca catatan itu.
"Jangan bohong, Djohan."
kepala Djohan terangkat pelan pelan dan matanya memandang gadis yg merokok di depannya. Pancaran mata Djohan mengandung kerisauan.
"Bekas tanda di lehermu merupakan bukti. Kau tak bisa mengelak," ucap Rita sambil tertawa.
Djohan jadi malu. Apalagi mendengar tawa Rita yg seolah olah mengutuk dirinya.
"Wel, itu sudah lumrah. Sebagai seorang pemuda yg tampan sudah tentu banyak di cintai gadis gadis," sambung Rita.
Senyum yg menghiasi wajah Djohan sedikit mengurangi kerisauan. Dan Djohan merasa, bahwa Rita menganggap hal semacam itu sudah wajar. Hati Djohan menjadi lega akan sikap Rita yg polos.
"Siang ini papa akan mengundang kita makan bersama sama. Kau tak terlalu sibuk bukan?" ujar Rita
"Sekalipun sibuk, akan kupenuhi undangan makan siang nanti."
"Kau memang terlalu baik," kata Rita gembira.
"Apakah kau akan menunggu sampai undangan makan siang nanti?"
"Ya, aku masih belum puas melampiaskan rinduku padamu. Disini aku bisa melepaskan rindu.
Djohan tertawa. Bukan main, sikap Rita begitu terus terang dan tak mempunyai perasaan malu.
Sambil menyelesaikan pekerjaan Djohan menemani Rita. Mereka berbicara dari Barat sampai Ke Timur. Yg paling memonopoli pembicaraan adalah Rita. Hampir seluruh pengalamannya di Negeri Barat diceritakan pada Djohan.
Ketika jarum di dinding sudah menunjukkan pukul satu siang, Rita menelphone kedua orang tuanya.
"Baru pulang, bang?" sapa Marina sembari tersenyum.
"Ya," sahut Djohan lemah. Dia terus melangkah masuk ke ruang dalam.
Marina mengikuti langkah Djohan. Di ruang tengah Djohan menghenyakkan pantat di kursi. Matanya kuyu. Wajahnya sendu dan kehilangan gairah. Marina memperhatikan sikap Djohan yg agak aneh.
"Malam ini abang nampak gelisah, ada sesuatu yg abang pikirkan?" tanya Marina lembut.
Djohan menggeleng lemah.
"Jangan menyembunyikan sesuatu Bang. Kalau terjadi apa apa aku pun turut memikulnya."
"Tak apa apa, hanya...."
"Hanya apa, bang?"
Djohan menatap wajah Marina dalam dalam. Pancaran mata Djohan mencerminkan hatinya dengan tulus mencintai Marina. Takut kehilangan Marina. Takut juga kebahagian yg dirintihnya sekarang akan hancur berantakan.
"Sungguh sungguhkah kau mencintaiku?" tanya Djohan resah.
"malam ini abang nampak aneh?"
"Ya. Kerna aku takut cintamu akan berubah. Kau akan meninggalkan aku."
Marina memeluk Djohan. Menjatuhkan kepalanya di dada Djohan yg bidang. Mengusap usap kemeja suaminya dengan lembut.
" kenapa abang masih ragu padaku? Belum cukupkah cinta dan kasih sayang yg kuberikan pada abang? Katakanlah bang, apa yg harus kulakukan untuk membuktikan cintaku. Katakanlah," desak Marina.
"Kau tak akan meninggalkan aku, walau apapun yg akan terjadi."
"Tentu, bang. Aku akan menjadi istri yg setia."
"Marina," panggil Djohan lembut.
"Hurmmm?"
Belaian tangan Djohan di rambut Marina, membuat Marina memejamkan mata meresapi kasih sayang suaminya.
"Aku takut kebahagiaan kita akan hancur."
"Siapa yg akan menghancurkan?" tanya Marina.
Djohan tak menjawab melainkan mencium bibir Marina mesra. Dibalasnya ciuman Djohan dengan hangat. Djohan mengajak Marina masuk kedalam bilik.setelah mematikan lampu, beranjaklah mereka ke atas tempat tidur. Malam semakin sunyi. Suasana di daerah kaum elite itu sunyi senyap. Sesekali angin malam berhembus menyusup celah celah lubang jendela. Menyebarkan aroma bunga sedap malam.
*****
Djohan berangkat ke kantor kesiangan. Kerna hampir semalaman dia tak dapat memejamkan mata. Keresahan yg bercokol di hatinya terus saja menyergap nyergap. Kedatangan Rita menimbulkan problem yg tak kecil artinya. Djohan resah kerna kebahagiaan yg dirasakan hidup bersama Marina akan terbentuk pada kehancuran.
Ketika Djohan baru saja masuk keruang kerja, dia tersentak. Rita sudah duduk menunggunya. Gadis itu melempar senyum manis pada Djohan. Tapi mata Rita membaca mimik wajah Djohan yg risau.
"Sudah lama menunggu?" tegur Djohan.
"Satu jam yg lalu," sahut Rita sambil menghembuskan asap rokok.
Djohan merasa malas memandang sikap Rita yg sudah jauh berbeda. Agaknya kehidupan orang orang barat telah menjelma dalam dirinya. Sebelah kakinya dinaikkan ke atas meja tamu sambil asyik menghisap rokoknya. Djohan sebentar sebentar menarik napas panjang.
"Aku baru saja menelpon ke rumahmu,tapi pelayan memberi tahu semalam kau tak pulang. Tidur di mana?" tanya Rita.
"Di rumah teman."
Djohan duduk di belakang meja kerja. Membuka beg dan mengeluarkan catatan Penting.
"Seorang Wanita?"
"Bukan."
Rita tersenyum sinis. Matanya terus memandang bekas tanda di leher Djohan. Sementara Djohan tak menduga ada bekas tanda di lehernya. Dia asyik membaca catatan itu.
"Jangan bohong, Djohan."
kepala Djohan terangkat pelan pelan dan matanya memandang gadis yg merokok di depannya. Pancaran mata Djohan mengandung kerisauan.
"Bekas tanda di lehermu merupakan bukti. Kau tak bisa mengelak," ucap Rita sambil tertawa.
Djohan jadi malu. Apalagi mendengar tawa Rita yg seolah olah mengutuk dirinya.
"Wel, itu sudah lumrah. Sebagai seorang pemuda yg tampan sudah tentu banyak di cintai gadis gadis," sambung Rita.
Senyum yg menghiasi wajah Djohan sedikit mengurangi kerisauan. Dan Djohan merasa, bahwa Rita menganggap hal semacam itu sudah wajar. Hati Djohan menjadi lega akan sikap Rita yg polos.
"Siang ini papa akan mengundang kita makan bersama sama. Kau tak terlalu sibuk bukan?" ujar Rita
"Sekalipun sibuk, akan kupenuhi undangan makan siang nanti."
"Kau memang terlalu baik," kata Rita gembira.
"Apakah kau akan menunggu sampai undangan makan siang nanti?"
"Ya, aku masih belum puas melampiaskan rinduku padamu. Disini aku bisa melepaskan rindu.
Djohan tertawa. Bukan main, sikap Rita begitu terus terang dan tak mempunyai perasaan malu.
Sambil menyelesaikan pekerjaan Djohan menemani Rita. Mereka berbicara dari Barat sampai Ke Timur. Yg paling memonopoli pembicaraan adalah Rita. Hampir seluruh pengalamannya di Negeri Barat diceritakan pada Djohan.
Ketika jarum di dinding sudah menunjukkan pukul satu siang, Rita menelphone kedua orang tuanya.
Kurengkuh Duka Nestapamu! 4
Pada suatu hari, sepucuk surat dari Bastian datang. Marina mengupas isi surat itu sembari berbaring di atas tempat tidur.
---> Menjumpai sahabatku yg berbahagia : Marina...
Dalam kurun waktu yg kulampaui, baru sekarang aku dapat menggoreskan penaku untuk menulis di atas kertas biru ini. Suka dan duka di Negeri Orang selalu mengingatkan pada kampung halamanku. Termasuk nostalgia di bangku S.M.A. yg pernah kita reguk bersama sama, mungkin manis, mungkin pahit, tapi mengesankan untuk di kenang. Walau hampir setahun kita lalai masa masa kenangan itu, namun bagiku terasa baru kemarin berlalu.
Marina, bunga di tamanku yg sedang mekar telah dipetik orang. Berarti masa remaja yg penuh keceriaan telah berakhir. Meninggalkan masa remaja dan menempuh hidup bersama dengan pemuda idaman. Hatiku sangat gembira kerna bunga kesayanganku setelah dipetik di rawat dengan baik. Ditempatkan pada naungan kebahagiaan. Tak tercampakkan seperti apa yg kubayangkan.
Selamat berbahagia kuucapkan kepadamu. Kabar mengenai pernikahanmu sangat menggembirakan hatiku. Semoga kau akan selalu di karuniai kebahagiaan di sisi suamimu.
--->Dari sahabatmu : Bastian.
Sampai di sini surat Bastian. Marina tersenyum sambil melipat surat itu. Dia merasa gembira menerima ucapan selamat Bastian meski melalui sepucuk surat. Lalu pikirannya melayang di masa yg silam. Masa bersama Bastian. Ah! Masa itu memang gembira dan ceria. Belum terlihat dalam rayuan. Belum mengenal cinta. Dan Bastian memang seorang sahabat yg baik. Marina jadi rindu ingin bertemu dengan Bastian. Rindu bisa berkumpul kembali. Saling bersendagurau.
Kina masa remaja Marina sudah usai. Semua kejadian di masa lalu hanya merupakan kenangan indah di lembaran sejarah hidupnya. Marina kini seorang ibu rumah tangga yg baik dan setia.
*****
Di ruang kerja udara Ac menyejukkan badan Djohan. Membuat kepala lancar berpikir. Sedang di luar matahari terik memanggang bumi. Kendati manusia tetap berpacu memburu keberuntungan nasib.
Djohan duduk di belakang meja tengah sibuk mengecek daftar barang yg akan masuk. Tiba tiba telphone berdering. Djohan segera mengangkat gagang telphone itu.
"O, Ayah. Ada apa ayah?" tanya Djohan.
"Siang ini Rita akan tiba di Air Port Halim. Kita siap menjemputnya," kata Burnama di pesawat telphone.
"Ba... baik, ayah," tergagap sahutan Djohan.
Dengan lemah Djohan menaruh kembali ganggang telphone itu ke induknya. Pikirannya resah dan kacau balau. Djohan menyanggah keningnya yg mendadak dirasakan berat. Dia harus menghadapi problem yg tak kecil artinya setelah Rita kembali. Tak tahu Djohan harus berbuat apa. Menerima kenyataan harus menikah dengan Rita adalah merupakan pukulan yg teramat menyakitkan. Sebab di hati Djohan tak ada Cinta.
Tergesa gesa Djohan meninggalkan kantor dan menjemput Burnama beserta istrinya. Dia meninggalkan pesan pada sekretarisnya untuk melayani setiap tamu yg datang.
Ternyata setibanya di rumah Burnama, kedua orang tua angkatnya itu menampakkan wajah berseri seri. Mereka sudah menunggu jemputan Djohan. Dan tanpa membuang waktu lagi berangkatlah mereka ke Air Port Halim.
Suasana di Air Port Halim sibuk orang yg hendak bepergian. Juga ada sebagian orang yg menjemput keluarganya. Djohan dan kedua orang tua angkatnya nampak memasuki ruang tunggu. Wajah Burnama dan isterinya cerah dan berseri seri. Sedangkan wajah Djohan gelisah dan risau. Bayangan kesuraman memenuhi benaknya. Dengan kembalinya Rita di tengah tengah keluarga Burnama akan menimbulkan problem bagi kehidupan Djohan. Kemelut akan mengintai kehancuran rumah tangga yang dibina belum lama.
Pengeras suara menyentakkan lamunan Djohan. Jantungnya berdenyut kencang. Pesawat yg ditumpangi Rita akan segera mendarat di lapangan. Kedua orang tua Rita tak sabar lagi ingin segera melihat anak gadisnya. Buru buru menuju ke pintu keluar dan memandang pesawat udara yg akan mendarat. Pesawat terbang itu mulai mendaratkan rodanya. Suara denyit roda pesawat bagaikan menyayat hati Djohan yg resah. Lalu tubuh pesawat itu semakin mendekat di landasan yg lebar. Suara denyit roda yg di rem membisingkan telinga. Dan perlahan lahan pesawat terbang itu berhenti.
Pintu pesawat tak lama kemudian terbuka perlahan lahan. Keluarlah sebuah tangga dari pintu itu. Satu persatu para penumpang bergegas turun nampak wajah wajah para penumpang yg baru saja turun dari pesawat berseri seri. Ada sebagian yg melambai lambaikan tangan.
"Itu Rita, pak!" kata Rosmari sambil menunjuk dengan gembira.
"Ya... ya... ya," sahut Burnama tersenyum.
"Djohan, sambutlah kedatangan Rita."
Dengan berat hati Djohan menyambut Rita di pintu keluar. Gadis yg ditunggu masih berjalan santai menuju tempat pengambilan barang. Baru setelah itu menuju pintu keluar. Djohan segera menyambut Rita dengan senyum yg dipaksakan.
"Rita..," panggil Djohan.
"Heii, abang Djohan!" balas Rita gembira sekali. Lantas memeluk Djohan erat erat. Seperti menghabiskan rasa rindunya yg bertumpuk tumpuk. Sedang yg dirasakan Djohan adalah kepedihan.
---> Menjumpai sahabatku yg berbahagia : Marina...
Dalam kurun waktu yg kulampaui, baru sekarang aku dapat menggoreskan penaku untuk menulis di atas kertas biru ini. Suka dan duka di Negeri Orang selalu mengingatkan pada kampung halamanku. Termasuk nostalgia di bangku S.M.A. yg pernah kita reguk bersama sama, mungkin manis, mungkin pahit, tapi mengesankan untuk di kenang. Walau hampir setahun kita lalai masa masa kenangan itu, namun bagiku terasa baru kemarin berlalu.
Marina, bunga di tamanku yg sedang mekar telah dipetik orang. Berarti masa remaja yg penuh keceriaan telah berakhir. Meninggalkan masa remaja dan menempuh hidup bersama dengan pemuda idaman. Hatiku sangat gembira kerna bunga kesayanganku setelah dipetik di rawat dengan baik. Ditempatkan pada naungan kebahagiaan. Tak tercampakkan seperti apa yg kubayangkan.
Selamat berbahagia kuucapkan kepadamu. Kabar mengenai pernikahanmu sangat menggembirakan hatiku. Semoga kau akan selalu di karuniai kebahagiaan di sisi suamimu.
--->Dari sahabatmu : Bastian.
Sampai di sini surat Bastian. Marina tersenyum sambil melipat surat itu. Dia merasa gembira menerima ucapan selamat Bastian meski melalui sepucuk surat. Lalu pikirannya melayang di masa yg silam. Masa bersama Bastian. Ah! Masa itu memang gembira dan ceria. Belum terlihat dalam rayuan. Belum mengenal cinta. Dan Bastian memang seorang sahabat yg baik. Marina jadi rindu ingin bertemu dengan Bastian. Rindu bisa berkumpul kembali. Saling bersendagurau.
Kina masa remaja Marina sudah usai. Semua kejadian di masa lalu hanya merupakan kenangan indah di lembaran sejarah hidupnya. Marina kini seorang ibu rumah tangga yg baik dan setia.
*****
Di ruang kerja udara Ac menyejukkan badan Djohan. Membuat kepala lancar berpikir. Sedang di luar matahari terik memanggang bumi. Kendati manusia tetap berpacu memburu keberuntungan nasib.
Djohan duduk di belakang meja tengah sibuk mengecek daftar barang yg akan masuk. Tiba tiba telphone berdering. Djohan segera mengangkat gagang telphone itu.
"O, Ayah. Ada apa ayah?" tanya Djohan.
"Siang ini Rita akan tiba di Air Port Halim. Kita siap menjemputnya," kata Burnama di pesawat telphone.
"Ba... baik, ayah," tergagap sahutan Djohan.
Dengan lemah Djohan menaruh kembali ganggang telphone itu ke induknya. Pikirannya resah dan kacau balau. Djohan menyanggah keningnya yg mendadak dirasakan berat. Dia harus menghadapi problem yg tak kecil artinya setelah Rita kembali. Tak tahu Djohan harus berbuat apa. Menerima kenyataan harus menikah dengan Rita adalah merupakan pukulan yg teramat menyakitkan. Sebab di hati Djohan tak ada Cinta.
Tergesa gesa Djohan meninggalkan kantor dan menjemput Burnama beserta istrinya. Dia meninggalkan pesan pada sekretarisnya untuk melayani setiap tamu yg datang.
Ternyata setibanya di rumah Burnama, kedua orang tua angkatnya itu menampakkan wajah berseri seri. Mereka sudah menunggu jemputan Djohan. Dan tanpa membuang waktu lagi berangkatlah mereka ke Air Port Halim.
Suasana di Air Port Halim sibuk orang yg hendak bepergian. Juga ada sebagian orang yg menjemput keluarganya. Djohan dan kedua orang tua angkatnya nampak memasuki ruang tunggu. Wajah Burnama dan isterinya cerah dan berseri seri. Sedangkan wajah Djohan gelisah dan risau. Bayangan kesuraman memenuhi benaknya. Dengan kembalinya Rita di tengah tengah keluarga Burnama akan menimbulkan problem bagi kehidupan Djohan. Kemelut akan mengintai kehancuran rumah tangga yang dibina belum lama.
Pengeras suara menyentakkan lamunan Djohan. Jantungnya berdenyut kencang. Pesawat yg ditumpangi Rita akan segera mendarat di lapangan. Kedua orang tua Rita tak sabar lagi ingin segera melihat anak gadisnya. Buru buru menuju ke pintu keluar dan memandang pesawat udara yg akan mendarat. Pesawat terbang itu mulai mendaratkan rodanya. Suara denyit roda pesawat bagaikan menyayat hati Djohan yg resah. Lalu tubuh pesawat itu semakin mendekat di landasan yg lebar. Suara denyit roda yg di rem membisingkan telinga. Dan perlahan lahan pesawat terbang itu berhenti.
Pintu pesawat tak lama kemudian terbuka perlahan lahan. Keluarlah sebuah tangga dari pintu itu. Satu persatu para penumpang bergegas turun nampak wajah wajah para penumpang yg baru saja turun dari pesawat berseri seri. Ada sebagian yg melambai lambaikan tangan.
"Itu Rita, pak!" kata Rosmari sambil menunjuk dengan gembira.
"Ya... ya... ya," sahut Burnama tersenyum.
"Djohan, sambutlah kedatangan Rita."
Dengan berat hati Djohan menyambut Rita di pintu keluar. Gadis yg ditunggu masih berjalan santai menuju tempat pengambilan barang. Baru setelah itu menuju pintu keluar. Djohan segera menyambut Rita dengan senyum yg dipaksakan.
"Rita..," panggil Djohan.
"Heii, abang Djohan!" balas Rita gembira sekali. Lantas memeluk Djohan erat erat. Seperti menghabiskan rasa rindunya yg bertumpuk tumpuk. Sedang yg dirasakan Djohan adalah kepedihan.
Kurengkuh Duka Nestapamu! 3
ROsmari membimbing Djohan masuk kebilik dengan penuh perhatian dan kasih sayang melebihi ibu kandungnya.
"Djohan,sudah saatnya kau mengetahui segalanya," kata Rosmari lunak.
"saya tak paham selama ini."
"kami sangat menyayangimu, Djohan. Kami takut kehilangan dirimu. Maka sebelum kami tiada ingin melihat hidupmu bahagia. Dan kau tetap menjadi anak kami. Mungkin kau juga tahu, jika kedua orang tuamu di kampung telah menyerahkan sepenuh hati pada kami. Mereka bahagia melihat keadaanmu sekarang. Ibumu yg menderita penyakit jantung bisa terus terawat oleh dokter. Ayahmu yg lumpuh sudah mulai dapat berjalan. Bukankah semua itu kerna keadaanmu selama berkumpul dengan kami? Jangan hancurkan kebahagiaan yg akan datang, anakku."
"saya tahu, bu. Tapi kenapa saya tak di izinkan menikah dengan Marina?"
"kerna kami takut kehilangan dirimu."
"Saya akan tetap membalas kebaikan budi ibu dan ayah. Saya tetap menyayangi sebagai anak kandung sendiri.
"Tapi tak sepenuhnya menjadi anak kami lagi."
"Lalu maksud ibu dan ayah yg sebenarnya?"
"Sebulan lagi Rita akan pulang dari Jerman. Rencana kami, Rita akan segera kami nikahkan denganmu."
Djohan terhenyak di tempat duduknya. Pikirannya terbang entah ke mana. Sukmanya seolah olah telah lepas dari jasadnya.
"Dengan jalan itu kau tetap menjadi anak kami dan mewarisi seluruh harta kekayaan. Bisa meneruskan perusahaan yg suatu saat kami telah kembali ke pangkuan Illahi. Kau dapat hidup berbahagia di samping Rita. Kau faham? Semua itu demi kebahagiaan kalian berdua di masa yg akan datang." Rosmari mengelus elus pudak Djohan.
"Kau gembira bukan?" tanya Rosmari.
Djohan mengangguk lesu. Hatinya bagaikan diiris iris sembilu. Dia berat membalas budi kedua orang tua angkatnya dengan menikahi Rita. Djohan tak mencintai gadis itu. Tapi keadaan memaksa harus menerima kenyataan itu. Ingat kedua orang tuanya di kampung yg sakit sakitan. Ingin rasanya Djohan berteriak kencang kencang. Menangisi keadaan Marina yg dilanda kedukaan dan tercampakkan di lembah nestapa. Tapi demi cintanya. Djohan tetap nekad akan menikahi gadis itu. Dia akan menghadapi apa pun yg akan terjadi. Bagi Djohan, Marina adalah segala galanya.
Rosmari berjalan meninggalkan Djohan yg masih duduk termenung. Berlalunya Rosmari dari bilik itu membalut kepedihan di hati Djohan. Huh! Balas budi harus mengorbankan cinta sejati. Menikah dengan gadis yg tak dicintai. Alangkah pahitnya kenyataan itu. Djohan mengeluh dalam kesendiriannya. Menyesali mengapa harus begini. Mereguk kebahagiaan bukan dari hati nuraninya. Melainkan dengan balas budi.
*****
Djohan memenuhi janjinya. Seminggu kemudian Djohan melangsungkan pernikahan dengan Marina. Perkawinan itu sangat sederhana sekali. Memanggil penghulu di rumah yg disaksikan oleh kedua orang tua Marina dan dua orang sahabat, yaitu Redo dan Nina. Purba mengesyahkan akad nikah itu dengan hati terharu.
Setelah selesai akad nikah, Djohan dan Marina berbulan madu ke puncak. Sepasang pengantin baru ini berbulan madu penuh kebahagiaan.
Namun apa yg ditempuh Djohan tanpa setahu keluarga Burnama. Waktu satu minggu berbulan madu ke puncak, Djohan memberi alasan ke pada orang tua Rita mengurus bisnis ke Singapura sehingga hal yg dilakukan diam diam ini tak menimbulkan kecurigaan kedua orang tua angkatnya.
Sepulangnya dari berbulan madu, kesulitan mulai timbul. Tak mungkin Djohan menempatkan Marina di rumahnya. Sebab kedua orang tua angkatnya akan tahu keadaan Djohan yg telah resmi menikah dengan Marina. Untuk sementara Djohan menitipkan Marina di rumah mertua.
Dalam waktu lima hari Djohan berusaha membelikan sebuah rumah untuk Marina. Untuk membeli rumah itu Djohan memakai uang perusahaan. Semua diperkirakan habis sekitar dua puluh lima juta, termasuk membeli perabotan rumah tangga. Kemudian Djohan memboyong Marina untuk menempati rumah baru itu.
Sejak Marina menempati rumah baru, dia seperti memasuki dunia kemewahan yg serba indah. Hidupnya bergelimpang kebahagiaan. Semua impiannya sudah menjadi kenyataan.
Dan Marina menampakkan sifat sebagai seorang istri yg setia terhadap Djohan.
---berrrrr....:-)
"Djohan,sudah saatnya kau mengetahui segalanya," kata Rosmari lunak.
"saya tak paham selama ini."
"kami sangat menyayangimu, Djohan. Kami takut kehilangan dirimu. Maka sebelum kami tiada ingin melihat hidupmu bahagia. Dan kau tetap menjadi anak kami. Mungkin kau juga tahu, jika kedua orang tuamu di kampung telah menyerahkan sepenuh hati pada kami. Mereka bahagia melihat keadaanmu sekarang. Ibumu yg menderita penyakit jantung bisa terus terawat oleh dokter. Ayahmu yg lumpuh sudah mulai dapat berjalan. Bukankah semua itu kerna keadaanmu selama berkumpul dengan kami? Jangan hancurkan kebahagiaan yg akan datang, anakku."
"saya tahu, bu. Tapi kenapa saya tak di izinkan menikah dengan Marina?"
"kerna kami takut kehilangan dirimu."
"Saya akan tetap membalas kebaikan budi ibu dan ayah. Saya tetap menyayangi sebagai anak kandung sendiri.
"Tapi tak sepenuhnya menjadi anak kami lagi."
"Lalu maksud ibu dan ayah yg sebenarnya?"
"Sebulan lagi Rita akan pulang dari Jerman. Rencana kami, Rita akan segera kami nikahkan denganmu."
Djohan terhenyak di tempat duduknya. Pikirannya terbang entah ke mana. Sukmanya seolah olah telah lepas dari jasadnya.
"Dengan jalan itu kau tetap menjadi anak kami dan mewarisi seluruh harta kekayaan. Bisa meneruskan perusahaan yg suatu saat kami telah kembali ke pangkuan Illahi. Kau dapat hidup berbahagia di samping Rita. Kau faham? Semua itu demi kebahagiaan kalian berdua di masa yg akan datang." Rosmari mengelus elus pudak Djohan.
"Kau gembira bukan?" tanya Rosmari.
Djohan mengangguk lesu. Hatinya bagaikan diiris iris sembilu. Dia berat membalas budi kedua orang tua angkatnya dengan menikahi Rita. Djohan tak mencintai gadis itu. Tapi keadaan memaksa harus menerima kenyataan itu. Ingat kedua orang tuanya di kampung yg sakit sakitan. Ingin rasanya Djohan berteriak kencang kencang. Menangisi keadaan Marina yg dilanda kedukaan dan tercampakkan di lembah nestapa. Tapi demi cintanya. Djohan tetap nekad akan menikahi gadis itu. Dia akan menghadapi apa pun yg akan terjadi. Bagi Djohan, Marina adalah segala galanya.
Rosmari berjalan meninggalkan Djohan yg masih duduk termenung. Berlalunya Rosmari dari bilik itu membalut kepedihan di hati Djohan. Huh! Balas budi harus mengorbankan cinta sejati. Menikah dengan gadis yg tak dicintai. Alangkah pahitnya kenyataan itu. Djohan mengeluh dalam kesendiriannya. Menyesali mengapa harus begini. Mereguk kebahagiaan bukan dari hati nuraninya. Melainkan dengan balas budi.
*****
Djohan memenuhi janjinya. Seminggu kemudian Djohan melangsungkan pernikahan dengan Marina. Perkawinan itu sangat sederhana sekali. Memanggil penghulu di rumah yg disaksikan oleh kedua orang tua Marina dan dua orang sahabat, yaitu Redo dan Nina. Purba mengesyahkan akad nikah itu dengan hati terharu.
Setelah selesai akad nikah, Djohan dan Marina berbulan madu ke puncak. Sepasang pengantin baru ini berbulan madu penuh kebahagiaan.
Namun apa yg ditempuh Djohan tanpa setahu keluarga Burnama. Waktu satu minggu berbulan madu ke puncak, Djohan memberi alasan ke pada orang tua Rita mengurus bisnis ke Singapura sehingga hal yg dilakukan diam diam ini tak menimbulkan kecurigaan kedua orang tua angkatnya.
Sepulangnya dari berbulan madu, kesulitan mulai timbul. Tak mungkin Djohan menempatkan Marina di rumahnya. Sebab kedua orang tua angkatnya akan tahu keadaan Djohan yg telah resmi menikah dengan Marina. Untuk sementara Djohan menitipkan Marina di rumah mertua.
Dalam waktu lima hari Djohan berusaha membelikan sebuah rumah untuk Marina. Untuk membeli rumah itu Djohan memakai uang perusahaan. Semua diperkirakan habis sekitar dua puluh lima juta, termasuk membeli perabotan rumah tangga. Kemudian Djohan memboyong Marina untuk menempati rumah baru itu.
Sejak Marina menempati rumah baru, dia seperti memasuki dunia kemewahan yg serba indah. Hidupnya bergelimpang kebahagiaan. Semua impiannya sudah menjadi kenyataan.
Dan Marina menampakkan sifat sebagai seorang istri yg setia terhadap Djohan.
---berrrrr....:-)
Langganan:
Postingan (Atom)