Malam itu, Ronald datang ke rumah Ersa dengan wajah kusut, sepertinya, dia sedang menanggung beban berat.
"Ada masalah?" tanya Ersa penuh perhatian.
Ronald menunjukkan wajah sendu dan memelas.
"Lusa registrasi, Er, tapi uang yg dikirim papa seminggu yg lalu sudah habis."
"Habis? Dipakai apa?"
"Bayar hutang."
"Bayar hutang? Berapa juta, Ron? Terus hutang apa?"
"Kamu kan tahu masa lalu saya, saya suka minum, suka pakai obat, kerna itu hutang saya banyak, sebagian baru saya bayar minggu lalu. Kalau saya tak bayar, nyawa saya taruhannya, kamu kan tahu dunia saya keras, apalagi anak anak yg dulu dekat saya."
Ersa mengerti ke mana arah bicara Ronald, Ronald pasti tak hanya ingin cerita, tapi pasti mau minta bantuan Ersa berupa uang, tapi Ersa tak bisa, apalagi uang untuk membantu Ronald, untuk ia kirimkan ke rumah saja kurang. Saat krisis begini, pengeluaran menjadi dua kali lipat, sedang penghasilan tak bertambah. Apalagi Ersa cuma kasir di sebuah Departemen Store.
"Kamu punya tabungan?" tanya Ronald memohon.
Ersa menggeleng pelan, dia merasa iba, tapi tak bisa berbuat apa apa.
"Tolong bantu saya Er, please...," pintanya memohon.
"Macam mana caranya, Ron? Kamu kan tahu kerjaan saya cuma..."
"Kamu bisa balik ke kerjaan yg dulu."
"Apa?!" Ersa tersentak. Tak pernah ia duga Ronald akan tega bicara seperti itu.
"Kamu... Kamu mau saya jadi wanita penghibur lagi?!" tukasnya kecewa.
Ersa memang punya masa lalu yg hitam, untuk menyambung hidupnya dan membantu sekolah adiknya, dia pernah terjerumus ke lembah hitam Kerna ajakan Sinta. Bahkan di sebuah diskotik saat mencari mangsa ia bertemu dengan Ronald. Tapi itu tak bertahan lama, setahun pun tidak ia menggeluti dunia hitam itu kerna pada dasarnya ia sangat tak suka. Apalagi, ia merasa benar benar jatuh cinta pada Ronald dan ingin dirinya hanya menjadi milik Ronald. Tapi apa kata Ronald tadi? Dia minta Ersa kembali lagi?
"Mau, kan?" suara Ronald masih memaksa.
"Kamu tega Ron, saya sudah berusaha menjadi wanita yg baik, tapi kenapa kamu ingin menjerumuskan saya kembali? Apa kamu tak cinta saya Ron? Apa kamu..."
"Saya cinta kamu, tapi saya tak bisa berhenti kuliah hanya kerna tak ada uang untuk registrasi."
"Kamu bisa cuti."
"Saya tak mau kuliah saya tertunda, apalagi ini semester terakhir."
"Tapi mana mungkin untuk itu kamu harus korbankan saya."
"Terpaksa, Er, saya tak punya jalan lain, dan saya juga tak bisa minta bantuan pada siapa pun. Hanya kamu harapan saya satu satunya, tak ada yg lain. Saya juga tak mungkin minta uang lagi pada orang tua saya, mereka tak akan mengerti. Siapa pun tak akan mengerti, yg mengerti aku cuma kamu."
Tapi Ersa tetap kecewa dan sakit hati. Sedikit pun ia tak ingin kembali ke masa lalunya yg kelam itu. Benar benar tak ingin.
"Cuma kamu yg mengerti aku," Ronald bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri Ersa. Dia bersimpuh di kaki Ersa, dan memagangi jemari Ersa.
"Please, Er, tolong aku, hanya kamu harapan saya, tak ada yg lain."
"Tapi jangan suruh saya melakukan itu."
"Ini untuk masa depan kita, kalau saya sudah selesai kuliah nanti dan kerja, uangnya juga untuk kamu dan aku, untuk kita."
" Tapi jangan suruh saya melakukan itu, kita bisa cari jalan lain."
"Jalan apa? Udah buntu, Er, dan waktunya hanya tinggal lima hari. Kamu hubungi teman kamu yg dulu, atau langganan kamu. Terus...."
"Tak, saya tak mau, Ron," geleng Ersa.
"Meski untuk saya?"
"Kamu boleh minta apa saja padaku, tapi jangan yg satu itu, Ron. Hidup saya sudah berlumuran dosa, saya tak ingin menambahnya lagi."
"Justru itu, jika kamu gadis yg baik, alim, polos dan masih bersih, saya juga tak akan memintamu seperti ini, tapi kamu kan...,"
" kotor?" sela Ersa tersinggung dan sakit hati.
"Saya tak cakap macam itu, tapi yg pasti, kamu sudah berpengalaman dan bukan perawan suci. Jadi tolong saya, berkorbanlah untuk saya, untuk cinta kita. Lagipula ini tak terlalu berat untuk kamu kerna ini bukan dunia baru untukmu."
"Tidak," Ersa bersikeras, "Saya tak akan tolong kamu jika itu yg kamu minta."
"Kamu tak ingin menunjukkan cinta kamu?"
"Kamu tak adil, Ron! Kamu menuntut cinta saya, sedang kamu sendiri tak menunjukkan cinta kamu, kamu sanggup mendorong saya ke lembah hitam! Itukah yg namanya cinta,?! Kalau kamu mencintaiku, kamu akan menjaga saya, kamu akan memperhatikan kehormatan saya, bukan menjeremuskan saya!" teriak Ersa berang.
Ronald bangkit dengan marah, lalu berkacak pinggang di hadapan Ersa.
"Kalau kamu tak mau tolong saya, cakap saja tak mau, tak usah pakai teriak teriak segala! Dan tak perlu mencari cari alasan! Saya juga tak maksa!" Ronald berbalik, lalu pergi.
Ersa terdiam, tapi terus terang ia sangat takut kehilangan lelaki itu, ia sangat mencintainya. Teramat sangat.
Begitu tubuh Ronald menghilang dari pandanganya, terasa ada yg terenggut dari hati Ersa. Dia merasa hatinya kosong, hampa dan bingung. Dan ia tumpahkan perasaan hatinya dengan menangis. Dadanya sakit dan sesak.
*******
Sssssstt!!! Sem0ga kalian suka:-
Aku bukan permata penghias mahkota,aku hanya serpihan kaca yang terbuang,aku bukan pujangga yang kau puja,aku hanya penulis murahan,yang terbiar di tepi jalan,karyaku hanya inspirasi picisan,jangankan hendak menulis 10 judul dalam 1 jam,satU bAitpun aku haBiskan berbulan bulan,aku tidak memiliki kepandaian menulis,aku cuma ada keinginan.
Ucapan saya
Selamat datang d'blog saya,yang serba sederhana.
blog ini terbina untuk meluahkan perasaan dan mengisi waktu yang kosong. kepada penulis blog yang telah menyalin atau mencetak karya yang ada dalam blog ini,tanpa seizin saya,di harap me-delete daripada blok anda.
Terima kasih,,atas kerja samanya n perhatianya,,saya sangat menghargainya..
blog ini terbina untuk meluahkan perasaan dan mengisi waktu yang kosong. kepada penulis blog yang telah menyalin atau mencetak karya yang ada dalam blog ini,tanpa seizin saya,di harap me-delete daripada blok anda.
Terima kasih,,atas kerja samanya n perhatianya,,saya sangat menghargainya..
Senin, 03 Januari 2011
Kurengkuh Duka Nestapamu! 15
Djohan semakin terkurung dalam pengawasan Rita. Gerak geriknya senantiasa dibatasi oleh wanita yg dikutuknya itu. Sebab sekarang Rita ikut mengelola jalannya perusahaan. Dia duduk satu ruangan dengan Djohan. Sudah tentu Djohan tak sebebas dulu lagi. Kemana pun Rita tak nak ketinggalan. Bila Djohan sedang mencari cari alasan untuk menjenguk Marina, selalu saja gagal. Setiap dia keluar, Rita selalu ikut.
Waktu sudah berlalu satu bulan lamanya. Sejak saat itu Djohan tak pernah menjenguk Marina. Apa yg telah terjadi selama ini pada diri Marina, terus menerus menghantui pikiran Djohan.
Djohan terus berusaha mencari peluang untuk bisa menjenguk Marina. Rasa rindu di dalam dadanya sudah tak dapat di bendung lagi. Pada suatu tengah malam, Djohan perlahan lahan meninggalkan Rita yg sedang tidur nyenyak. Dengan dibantu penjaga malam kereta dapat dikeluarkan dari garaj tanpa membangunkan tidur istrinya.
Djohan melarikan kereta agar lekas sampai. Rasa rindu di dalam dada sudah tak dapat dibendung lagi.
Sesampainya di depan rumah Marina, tergesa gesa Djohan mengetuk pintu rumah. Ketika pintu rumah terbuka dan sesosok tubuh ramping berdiri di depannya, Djohan langsung memeluk wanita itu. Mendekapnya erat erat sambil membendung jatuhnya air mata.
"Marina..." panggil Djohan serak.
"Abang..." desah Marina.
Mereka saling bertatapan dengan mata berkaca kaca. Namun Marina tak kuasa membendung tangisnya. Meledaklah tangis wanita itu dalam pelukan suaminya. Djohan segera membimbingnya masuk ke bilik. Di atas tempat tidur mereka berpelukan erat erat. Serasa tak ingin terpisahkan.
"Abang kejam membiarkan Rina kesepian..." ratap Marina.
"Abang tahu.., Abang tahu perasaanmu, sayang."
"Rina rindu sekali pada abang..."
"Lebih lebih abang, Marina. Sayang Segala galanya bagi abang."
Djohan langsung mendaratkan ciumannya ke bibir Marina. Bagi Djohan detik detik yg berlalu sangat berarti. Dia ingin melepaskan rasa rindunya yg selama ini menumpuk di dalam dada. Melampiaskan dengan bentuk kasih sayang yg melelapkan dirasakan Marina. Sebulan lebih merek tak saling bertemu.
*****
kerisauan mulai timbul di hati Djohan manakala mendengar suara ayam berkokok. Dia harus cepat pulang agar Rita tak mengetahui kepergiannya. Disambarnya pakaian yg berserakan di atas tempat tidur.
"Nak ke mana, bang?" tanya Marina dengan wajah sayu.
"Abang harus pulang sekarang."
Marina termangu memandang suaminya.
"Di pagi buta begini?"
"Ya. Kalau sampai Rita tahu abang kesini bisa kacau," gumam Djohan.
"Tapi rindu Rina belum tuntas, bang. Tegakah abang padaku?" keluh Marina sedih. Kedua matanya mulai berkaca kaca.
Djohan tak sampai hati melihat istrinya menangis. Dipeluknya Marina sambil membelai rambut rambut yg jatuh di kening wanita itu.
"Marina, abang harap Rina tabah dan tetap setia pada abang. Abang tak mungkin tega membiarkan Rina dalam kesepian dan kepedihan. Semua ini kerna keadaan yg harus kita pikul berdua. Rina tak menghendaki kebahagiaan kita hancur bukan?"
Tangis Marina semakin pilu. Diremas remasnya kemeja Djohan dengan hati pedih dan hancur.
"Tapi hati kecil Rina merintih dalam kesepian, bang. Hari hari Rina lalui tanpa kasih sayang abang terasa tak berarti. Rina seperti kehilangan gairah untuk lebih lama hidup di dunia ini," kata Marina di sela sela isak tangisnya.
"Jangan...jangan Rina berkata begitu, Marina. Rina tetap segala galanya bagi abang. Abang tak ingin melihat Rina kehilangan gairah hidup. Tetaplah pada kesetiaan Rina. Suatu ketika abang akan kembali pada Rina." ujar Djohan sambil mendekap istrinya erat erat.
"Mungkinkah itu, bang?" suara Marina.
"Bersabarlah, sayang."
Djohan menghapus air mata yg membasahi pipi Marina. Lembut dan penuh cinta kasih dikecupnya kening Marina.
"Abang pulang, sayang..." Dengan berat hati Djohan berpamitan.
Marina hanya dapat memandang wajah suaminya dalam dalam. Pelukannya semakin mengendor. Terasa begitu berat hati Marina melepaskan suaminya pergi. Tapi demi cintanya yg suci direlakannya Djohan berlalu. Marina melepaskan kepergian suaminya dengan hati tersayat sayat. Lambaian tangan Djohan hanya dibalas dengan cucuran air mata. Sambil memandang kereta yg dikemudikan Djohan berlalu, Marina menggigit bibirnya kuat kuat. Berusaha menahan gejolak perasaannya yg hancur.
Setelah kereta itu menghilang dari pandangannya, berlarilah dia ke dalam bilik. Di atas tempat tidur menjatuhkan dirinya dan menangis sejadi jadinya. Kedua telapak tangannya meremas remas spray dan mencampakkan ke lantai. Marina tak tahan menghadapi keadaan seperti ini. Dunia terlampau kejam baginya.
*****
Waktu sudah berlalu satu bulan lamanya. Sejak saat itu Djohan tak pernah menjenguk Marina. Apa yg telah terjadi selama ini pada diri Marina, terus menerus menghantui pikiran Djohan.
Djohan terus berusaha mencari peluang untuk bisa menjenguk Marina. Rasa rindu di dalam dadanya sudah tak dapat di bendung lagi. Pada suatu tengah malam, Djohan perlahan lahan meninggalkan Rita yg sedang tidur nyenyak. Dengan dibantu penjaga malam kereta dapat dikeluarkan dari garaj tanpa membangunkan tidur istrinya.
Djohan melarikan kereta agar lekas sampai. Rasa rindu di dalam dada sudah tak dapat dibendung lagi.
Sesampainya di depan rumah Marina, tergesa gesa Djohan mengetuk pintu rumah. Ketika pintu rumah terbuka dan sesosok tubuh ramping berdiri di depannya, Djohan langsung memeluk wanita itu. Mendekapnya erat erat sambil membendung jatuhnya air mata.
"Marina..." panggil Djohan serak.
"Abang..." desah Marina.
Mereka saling bertatapan dengan mata berkaca kaca. Namun Marina tak kuasa membendung tangisnya. Meledaklah tangis wanita itu dalam pelukan suaminya. Djohan segera membimbingnya masuk ke bilik. Di atas tempat tidur mereka berpelukan erat erat. Serasa tak ingin terpisahkan.
"Abang kejam membiarkan Rina kesepian..." ratap Marina.
"Abang tahu.., Abang tahu perasaanmu, sayang."
"Rina rindu sekali pada abang..."
"Lebih lebih abang, Marina. Sayang Segala galanya bagi abang."
Djohan langsung mendaratkan ciumannya ke bibir Marina. Bagi Djohan detik detik yg berlalu sangat berarti. Dia ingin melepaskan rasa rindunya yg selama ini menumpuk di dalam dada. Melampiaskan dengan bentuk kasih sayang yg melelapkan dirasakan Marina. Sebulan lebih merek tak saling bertemu.
*****
kerisauan mulai timbul di hati Djohan manakala mendengar suara ayam berkokok. Dia harus cepat pulang agar Rita tak mengetahui kepergiannya. Disambarnya pakaian yg berserakan di atas tempat tidur.
"Nak ke mana, bang?" tanya Marina dengan wajah sayu.
"Abang harus pulang sekarang."
Marina termangu memandang suaminya.
"Di pagi buta begini?"
"Ya. Kalau sampai Rita tahu abang kesini bisa kacau," gumam Djohan.
"Tapi rindu Rina belum tuntas, bang. Tegakah abang padaku?" keluh Marina sedih. Kedua matanya mulai berkaca kaca.
Djohan tak sampai hati melihat istrinya menangis. Dipeluknya Marina sambil membelai rambut rambut yg jatuh di kening wanita itu.
"Marina, abang harap Rina tabah dan tetap setia pada abang. Abang tak mungkin tega membiarkan Rina dalam kesepian dan kepedihan. Semua ini kerna keadaan yg harus kita pikul berdua. Rina tak menghendaki kebahagiaan kita hancur bukan?"
Tangis Marina semakin pilu. Diremas remasnya kemeja Djohan dengan hati pedih dan hancur.
"Tapi hati kecil Rina merintih dalam kesepian, bang. Hari hari Rina lalui tanpa kasih sayang abang terasa tak berarti. Rina seperti kehilangan gairah untuk lebih lama hidup di dunia ini," kata Marina di sela sela isak tangisnya.
"Jangan...jangan Rina berkata begitu, Marina. Rina tetap segala galanya bagi abang. Abang tak ingin melihat Rina kehilangan gairah hidup. Tetaplah pada kesetiaan Rina. Suatu ketika abang akan kembali pada Rina." ujar Djohan sambil mendekap istrinya erat erat.
"Mungkinkah itu, bang?" suara Marina.
"Bersabarlah, sayang."
Djohan menghapus air mata yg membasahi pipi Marina. Lembut dan penuh cinta kasih dikecupnya kening Marina.
"Abang pulang, sayang..." Dengan berat hati Djohan berpamitan.
Marina hanya dapat memandang wajah suaminya dalam dalam. Pelukannya semakin mengendor. Terasa begitu berat hati Marina melepaskan suaminya pergi. Tapi demi cintanya yg suci direlakannya Djohan berlalu. Marina melepaskan kepergian suaminya dengan hati tersayat sayat. Lambaian tangan Djohan hanya dibalas dengan cucuran air mata. Sambil memandang kereta yg dikemudikan Djohan berlalu, Marina menggigit bibirnya kuat kuat. Berusaha menahan gejolak perasaannya yg hancur.
Setelah kereta itu menghilang dari pandangannya, berlarilah dia ke dalam bilik. Di atas tempat tidur menjatuhkan dirinya dan menangis sejadi jadinya. Kedua telapak tangannya meremas remas spray dan mencampakkan ke lantai. Marina tak tahan menghadapi keadaan seperti ini. Dunia terlampau kejam baginya.
*****
Minggu, 02 Januari 2011
Kurengkuh Duka Nestapamu! 14
Apa yg dibayangkan kedua orang tua Rita sungguh berbeza dengan kenyataan. Sesampainya di rumah, Djohan bersikap dingin terhadap Rita. Lelaki itu duduk sambil menghabiskan beberapa botol bir. Membiarkan Rita berbaring di dalam kamar seorang diri menanti kehangatan yg akan diberikan suaminya di malam pengantin.
Perasaan Djohan dibalut kepedihan. Bayangan Wajah Marina yg menangis sedih tak mau lepas dari benaknya. Ingin dia lari dari kenyataan itu. Ingin segera memeluk istrinya yg malang. Tapi Djohan bagai tersekap dalam kurungan besi yg kokoh. Maka Djohan terus meneguk Minuman keras itu guna menghilangkan serangan perasaan pedih.
Akhirnya Djohan terkulai lemas di kursi. Alam pikirannya terbang entah ke mana. Bumi yg dipijaknya seperti berputar. Dan sebuah bisikan lembut terdengar di telinganya. Bisikan Rita mengajak Djohan untuk segera beranjak tidur. Djohan hanya menggelengkan kepala lesu. Rita duduk di sisi Djohan dan membelai keningnya. Djohan memandang Rita tak bergairah. Matanya kuyu dan pandangannya kabur.
Rita segera melingkarkan lengan Djohan di pundaknya. Diangkatnya tubuh Djohan yg lemas lunglai ke bilik. Tubuh itu dibaringkan ke atas tempat tidur. Satu persatu kancing kemeja Djohan dibukanya. Tetap saja Djohan tak bereaksi. Sejak dulu Djohan senantiasa bersikap dingin pada Rita. Malam malam sebelumnya meski Djohan sudah tidur bersama Rita, tak pernah Djohan berbuat mesra. Menyentuh tubuh wanita itu hanya kerna terpaksa.
*****
Matahari semakin tinggi di permukaan bumi mengusir embun yg menempel pada dedaunan. Sinarnya yg hangat menerobos masuk melalui celah celah ventilasi jendela kamar yg dihuni sepasang pengantin baru.
Perlahan lahan Djohan mulai menggeliat dan membuka matanya. Tapi serangan rasa pening di kepalanya berdenyut denyut. Segera di tekan kedua pelipisnya sambil menoleh ke samping. Djohan tersentak manakala melihat yg tidur di sisinya bukanlah Marina. Djohan bergegas melompat turun dari tempat tidur. Lalu diperhatikan dirinya yg polos tanpa pakaian. Cepat diraihnya selimut guna menutupi tubuhnya yg polos. Rita ikut terbangun akibat sentakan Djohan meraih selimut itu.
"Abang sudah bangun?"
"Tak kusangka perangkapmu mengenai sasaran! Tak sia sia kau memperjuangkan nasibku menjadi orang terpandang dan terhormat. Kerna kau akan menjeratku demi kepentingan dirimu. Kau risau menghadapi usiamu sebagai seorang gadis yg tak lagi dara. Kau hancurkan kebahagiaan rumah tanggaku demi kepuasanmu! Kau egois!" kata Djohan dengan geram.
"Keberhasilanmu sekarang harus kau tebus dengan jalan ini. Kekayaan dan kedudukanmu telah banyak memberikan surga dunia. Semua itu kerna aku. Barang siapa menanam pohon pasti akan mengharapkan buahnya. Aku yg menjadikan kau seperti sekarang ini, maka aku tak ingin sia sia memilikimu."
"Ciiiih ! Djohan meludah jijik di hadapan Rita.
"Kau tak lebih di mataku sebagai barang sisa tanpa cinta," tutur Djohan marah.
"Semua ini kulakukan kerna membalas sakit hati. Aku selalu dipermainkan laki laki. Hampir setiap laki laki yg kukenal hanya melampiaskan nafsu dan setelah puas aku ditinggalkannya. Tapi untuk terakhir kali ini, aku harus berhasil memilikimu. Aku tak ingin melewati hari tuaku penuh kesepian. Dapat memiliki seorang suami yg kucintai. Dan kau adalah pilihanku yg tepat," kata Rita.
"Licik, kau!"
"Tiada jalan lain. Sekarang kau telah sah menjadi suamiku," Rita tersenyum penuh kemenangan.
"Tertawalah sepuas puasmu!" teriak Djohan.
"Tak ada gunanya tertawa. Sangat bahagia aku dapat bisa memilikimu."
Djohan mendekati Rita dan siap menampar mulutnya. Tapi telapak tangan Djohan berangsur angsur turun dan tak jadi mendaratkan penamparnya. Segera diraihnya pakaian yg berserakan di atas tempat tidur. Dengan menyimpan gejolak amarah dikenakan pakaian itu. Djohan siap hendak pergi.
"Mau ke mana, bang?" tanya Rita.
"Jangan hiraukan aku lagi dan jangan panggil aku abang!" bentak Djohan.
"Aku berhak atas dirimu. Aku istrimu."
"Aku tak mendambakan perkawinan ini. Kita menikah hanya tertera di atas kertas. Tapi tak terukir di hatiku. Sepercik cinta tak ada di dalam dadaku. Kita sah menjadi suami istri hanya kerna terdesak keadaan. Maka biarkan aku bertindak sesuka hatiku. Aku tak ingin menjadi budak nafsumu!"
"Kau akan kembali pada Marina?"
"Itu urusanku!"
"Ingat! Keadaanmu berada di atas duri. Kalau kau bertindak menuruti kemauan hatimu, kau bisa tergelincir dan tertusuk duri."
"Kau mengancamku?!"
"Kerna aku sangat mencintaimu."
"Egois! Kejaaaam!" teriak Djohan memilukan.
Dia berlari mendekat tembok dan memukulnya berulangkali sambil meraung raung dalam tangis. Inikah hukum karma atas perbuatan yg dulu sering dilakukan? Djohan meninggalkan gadis gadis yg dulu mencintainya dan layu kerna terhisap madunya? Dan sekarang dia harus menebusnya? Djohan menjadi sadar. Penyesalan tak ada lagi gunanya. Kepahitan itu terpaksa direguknya dengan hati tabah.
*****
Perasaan Djohan dibalut kepedihan. Bayangan Wajah Marina yg menangis sedih tak mau lepas dari benaknya. Ingin dia lari dari kenyataan itu. Ingin segera memeluk istrinya yg malang. Tapi Djohan bagai tersekap dalam kurungan besi yg kokoh. Maka Djohan terus meneguk Minuman keras itu guna menghilangkan serangan perasaan pedih.
Akhirnya Djohan terkulai lemas di kursi. Alam pikirannya terbang entah ke mana. Bumi yg dipijaknya seperti berputar. Dan sebuah bisikan lembut terdengar di telinganya. Bisikan Rita mengajak Djohan untuk segera beranjak tidur. Djohan hanya menggelengkan kepala lesu. Rita duduk di sisi Djohan dan membelai keningnya. Djohan memandang Rita tak bergairah. Matanya kuyu dan pandangannya kabur.
Rita segera melingkarkan lengan Djohan di pundaknya. Diangkatnya tubuh Djohan yg lemas lunglai ke bilik. Tubuh itu dibaringkan ke atas tempat tidur. Satu persatu kancing kemeja Djohan dibukanya. Tetap saja Djohan tak bereaksi. Sejak dulu Djohan senantiasa bersikap dingin pada Rita. Malam malam sebelumnya meski Djohan sudah tidur bersama Rita, tak pernah Djohan berbuat mesra. Menyentuh tubuh wanita itu hanya kerna terpaksa.
*****
Matahari semakin tinggi di permukaan bumi mengusir embun yg menempel pada dedaunan. Sinarnya yg hangat menerobos masuk melalui celah celah ventilasi jendela kamar yg dihuni sepasang pengantin baru.
Perlahan lahan Djohan mulai menggeliat dan membuka matanya. Tapi serangan rasa pening di kepalanya berdenyut denyut. Segera di tekan kedua pelipisnya sambil menoleh ke samping. Djohan tersentak manakala melihat yg tidur di sisinya bukanlah Marina. Djohan bergegas melompat turun dari tempat tidur. Lalu diperhatikan dirinya yg polos tanpa pakaian. Cepat diraihnya selimut guna menutupi tubuhnya yg polos. Rita ikut terbangun akibat sentakan Djohan meraih selimut itu.
"Abang sudah bangun?"
"Tak kusangka perangkapmu mengenai sasaran! Tak sia sia kau memperjuangkan nasibku menjadi orang terpandang dan terhormat. Kerna kau akan menjeratku demi kepentingan dirimu. Kau risau menghadapi usiamu sebagai seorang gadis yg tak lagi dara. Kau hancurkan kebahagiaan rumah tanggaku demi kepuasanmu! Kau egois!" kata Djohan dengan geram.
"Keberhasilanmu sekarang harus kau tebus dengan jalan ini. Kekayaan dan kedudukanmu telah banyak memberikan surga dunia. Semua itu kerna aku. Barang siapa menanam pohon pasti akan mengharapkan buahnya. Aku yg menjadikan kau seperti sekarang ini, maka aku tak ingin sia sia memilikimu."
"Ciiiih ! Djohan meludah jijik di hadapan Rita.
"Kau tak lebih di mataku sebagai barang sisa tanpa cinta," tutur Djohan marah.
"Semua ini kulakukan kerna membalas sakit hati. Aku selalu dipermainkan laki laki. Hampir setiap laki laki yg kukenal hanya melampiaskan nafsu dan setelah puas aku ditinggalkannya. Tapi untuk terakhir kali ini, aku harus berhasil memilikimu. Aku tak ingin melewati hari tuaku penuh kesepian. Dapat memiliki seorang suami yg kucintai. Dan kau adalah pilihanku yg tepat," kata Rita.
"Licik, kau!"
"Tiada jalan lain. Sekarang kau telah sah menjadi suamiku," Rita tersenyum penuh kemenangan.
"Tertawalah sepuas puasmu!" teriak Djohan.
"Tak ada gunanya tertawa. Sangat bahagia aku dapat bisa memilikimu."
Djohan mendekati Rita dan siap menampar mulutnya. Tapi telapak tangan Djohan berangsur angsur turun dan tak jadi mendaratkan penamparnya. Segera diraihnya pakaian yg berserakan di atas tempat tidur. Dengan menyimpan gejolak amarah dikenakan pakaian itu. Djohan siap hendak pergi.
"Mau ke mana, bang?" tanya Rita.
"Jangan hiraukan aku lagi dan jangan panggil aku abang!" bentak Djohan.
"Aku berhak atas dirimu. Aku istrimu."
"Aku tak mendambakan perkawinan ini. Kita menikah hanya tertera di atas kertas. Tapi tak terukir di hatiku. Sepercik cinta tak ada di dalam dadaku. Kita sah menjadi suami istri hanya kerna terdesak keadaan. Maka biarkan aku bertindak sesuka hatiku. Aku tak ingin menjadi budak nafsumu!"
"Kau akan kembali pada Marina?"
"Itu urusanku!"
"Ingat! Keadaanmu berada di atas duri. Kalau kau bertindak menuruti kemauan hatimu, kau bisa tergelincir dan tertusuk duri."
"Kau mengancamku?!"
"Kerna aku sangat mencintaimu."
"Egois! Kejaaaam!" teriak Djohan memilukan.
Dia berlari mendekat tembok dan memukulnya berulangkali sambil meraung raung dalam tangis. Inikah hukum karma atas perbuatan yg dulu sering dilakukan? Djohan meninggalkan gadis gadis yg dulu mencintainya dan layu kerna terhisap madunya? Dan sekarang dia harus menebusnya? Djohan menjadi sadar. Penyesalan tak ada lagi gunanya. Kepahitan itu terpaksa direguknya dengan hati tabah.
*****
Kurengkuh Duka Nestapamu! 13
Malam yg sedang turun rintik rintik itu, dengan perasaan pedih Marina datang ke rumah Nina. Dia ingin mengadu nasibnya pada sahabatnya itu. Kedatangan Marina sangat mengejutkan Nina yg sudah sekian lama tak pernah saling bertemu.
"Haiii, angin apa yg membawamu kesini?" tegur Nina.
"Angin? Bukan angin melainkan badai," sahut Marina tersenyum hambar.
"Suamimu tak kau ajak kesini?"
Marina cuma menggeleng. Matanya berkaca kaca. Hal itu membuat Nina memandang Marina.
"Kau nampak sedih sekali, kenapa?"
Marina menggigit bibirnya menahan kepedihan di hati. Nina dapat merasakan sesuatu yg menekan perasaan Marina. Segera diajaknya Marina masuk ke dalam bilik. Mereka duduk di atas tempat tidur.
"Kau gaduh dengan Djohan?" tanya Nina penuh perhatian.
Marina menggeleng dan setitik air mata jatuh di pipinya.
"Lalu kenapa?"
"Djohan... akan menikah lagi," kata Marina sedih.
Nina tersentak.
"Dengan gadis mana dia akan menikah?"
"Putri tuan Burnama."
"Mana mungkin?" gumam Nina heran.
"Aku juga tak pernah menduga kalau Djohan bukan putra tuan Burnama. Djohan menikah kerna harus balas budi. Keluarga tuan Burnama yg telah membuatnya menjadi orang terhormat dan terpandang. Dulu Djohan hanya seorang perantauan dan mencari nafkah sebagai penyelundup. Bintang terang mulai merubah hidupnya ketika berkenalan dengan tuan Burnama. Rupanya putri tuan Burnama yg bernama Rita menaruh hati padi Djohan. Gadis itulah yg memperjuangkan nasib Djohan menjadi seorang direktur. Sekarang Djohan harus membalas budi kebaikan itu dengan menikah. Menikah dengan Rita." tutur Marina sedih.
"Kau mempunyai hak sepenuhnya atas diri Djohan. Kalau kau tak mengizinkan Djohan menikah dengan Rita, hal itu tak mungkin bisa terjadi."
"Aku dalam posisi terjepit," kata Marina terisak pilu.
"Kau lebih kuasa sebagai istri pertama."
"Tapi aku tak ingin melihat Djohan menderita di dalam penjara."
"Itu ancaman keluarga Burnama?"
"Ya. Djohan telah melakukan tindak korupsi, memakai uang perusahaan untuk membeli sebuah rumah yg kami tempati sekarang."
Nina mengeluh panjang. Ikut sedih melihat keadaan Marina yg mengalami nasib malang. Terpaksa merelakan suaminya menikah lagi kerna keadaan yg memaksa.
"Sungguh tak kuduga, kepahitan itu harus kau reguk," gumam Nina sedih.
Isak tangis Marina menyayat nyayat hati dan perasaan Nina. Gadis itu memeluk pundak Marina.
"Tabahkanlah hatimu, Marina. Mungkin ini hanya merupakan cobaan dalam kehidupanmu. Belum tentu hidupmu selamanya akan menderita."
"Sanggupkah aku? Sanggupkah? Kepedihan dan siksaan yg kualami sekarang belum separah nanti. Bagaimanapun juga cinta dan kasih sayang tak dapat terbagi, Nina." Marina terisak isak pilu.
"Masihkah kau mencintai, Djohan?"
"Terlalu besar cintaku padanya, sehingga keadaan yg akan terjadi sungguh menyiksa batinku."
"Kalau kau masih mencintai Djohan, tetaplah pada kesetiaan. Jika Djohan sungguh sungguh mencintaimu, pasti dia akan kembali padamu."
Marina mengusap air matanya. Dia bangkit dari tempat tidur dan mohon diri. Nina mengantarnya sampai di ambang pintu. Perasaan Nina ikut bersedih menyertai kepergian Marina. Setelah Marina lenyap dari pandangannya, segera ditulisnya surat kepada Bastian. Menceritakan keadaan Marina sekarang.
*****
pesta perkawinan Djohan dengan Rita Burnama dirayakan secara meriah dan megah. Gedung pertemuan yg digunakan peresmian perkawinan itu hampir tak mampu menampung para undangan. Kereta para tamu memadati jalan sampai menyebabkan alur lalu lintas jadi macet. Tak mengherankan kerna yg mempunyai hajat seorang pengusaha kaya raya.
Sepasang mempelai duduk di pelaminan. Wajah mempelai putri berseri seri penuh kebahagiaan. Namun wajah mempelai lelaki kelihatan murung dan sendu. Senyum yg menghiasi wajah Djohan bukan cetusan kebahagiaan dari hati nuraninya, melainkan senyum paksaan. Tak akan ada yg tahu perasaan yg terkandung di dalam dada lelaki itu. Dia disergap sergap kepedihan yg tak terkirakan. Ingat istrinya yg terbaring di atas tempat tidur dengan berlinangan air mata.
Sebelum pesta usai, kedua mempelai itu sudah meninggalkan gedung pertemuan. Djohan mengusulkan pada kedua orang tua Rita dengan alasan badannya kurang sehat. Tapi tanggapan kedua orang tua Rita seolah olah mengerti. Pasti Djohan sudah tak sabar menunggu pesta usai. Agar bisa cepat cepat beranjak keperaduan menikmati indahnya malam pertama.
*****
"Haiii, angin apa yg membawamu kesini?" tegur Nina.
"Angin? Bukan angin melainkan badai," sahut Marina tersenyum hambar.
"Suamimu tak kau ajak kesini?"
Marina cuma menggeleng. Matanya berkaca kaca. Hal itu membuat Nina memandang Marina.
"Kau nampak sedih sekali, kenapa?"
Marina menggigit bibirnya menahan kepedihan di hati. Nina dapat merasakan sesuatu yg menekan perasaan Marina. Segera diajaknya Marina masuk ke dalam bilik. Mereka duduk di atas tempat tidur.
"Kau gaduh dengan Djohan?" tanya Nina penuh perhatian.
Marina menggeleng dan setitik air mata jatuh di pipinya.
"Lalu kenapa?"
"Djohan... akan menikah lagi," kata Marina sedih.
Nina tersentak.
"Dengan gadis mana dia akan menikah?"
"Putri tuan Burnama."
"Mana mungkin?" gumam Nina heran.
"Aku juga tak pernah menduga kalau Djohan bukan putra tuan Burnama. Djohan menikah kerna harus balas budi. Keluarga tuan Burnama yg telah membuatnya menjadi orang terhormat dan terpandang. Dulu Djohan hanya seorang perantauan dan mencari nafkah sebagai penyelundup. Bintang terang mulai merubah hidupnya ketika berkenalan dengan tuan Burnama. Rupanya putri tuan Burnama yg bernama Rita menaruh hati padi Djohan. Gadis itulah yg memperjuangkan nasib Djohan menjadi seorang direktur. Sekarang Djohan harus membalas budi kebaikan itu dengan menikah. Menikah dengan Rita." tutur Marina sedih.
"Kau mempunyai hak sepenuhnya atas diri Djohan. Kalau kau tak mengizinkan Djohan menikah dengan Rita, hal itu tak mungkin bisa terjadi."
"Aku dalam posisi terjepit," kata Marina terisak pilu.
"Kau lebih kuasa sebagai istri pertama."
"Tapi aku tak ingin melihat Djohan menderita di dalam penjara."
"Itu ancaman keluarga Burnama?"
"Ya. Djohan telah melakukan tindak korupsi, memakai uang perusahaan untuk membeli sebuah rumah yg kami tempati sekarang."
Nina mengeluh panjang. Ikut sedih melihat keadaan Marina yg mengalami nasib malang. Terpaksa merelakan suaminya menikah lagi kerna keadaan yg memaksa.
"Sungguh tak kuduga, kepahitan itu harus kau reguk," gumam Nina sedih.
Isak tangis Marina menyayat nyayat hati dan perasaan Nina. Gadis itu memeluk pundak Marina.
"Tabahkanlah hatimu, Marina. Mungkin ini hanya merupakan cobaan dalam kehidupanmu. Belum tentu hidupmu selamanya akan menderita."
"Sanggupkah aku? Sanggupkah? Kepedihan dan siksaan yg kualami sekarang belum separah nanti. Bagaimanapun juga cinta dan kasih sayang tak dapat terbagi, Nina." Marina terisak isak pilu.
"Masihkah kau mencintai, Djohan?"
"Terlalu besar cintaku padanya, sehingga keadaan yg akan terjadi sungguh menyiksa batinku."
"Kalau kau masih mencintai Djohan, tetaplah pada kesetiaan. Jika Djohan sungguh sungguh mencintaimu, pasti dia akan kembali padamu."
Marina mengusap air matanya. Dia bangkit dari tempat tidur dan mohon diri. Nina mengantarnya sampai di ambang pintu. Perasaan Nina ikut bersedih menyertai kepergian Marina. Setelah Marina lenyap dari pandangannya, segera ditulisnya surat kepada Bastian. Menceritakan keadaan Marina sekarang.
*****
pesta perkawinan Djohan dengan Rita Burnama dirayakan secara meriah dan megah. Gedung pertemuan yg digunakan peresmian perkawinan itu hampir tak mampu menampung para undangan. Kereta para tamu memadati jalan sampai menyebabkan alur lalu lintas jadi macet. Tak mengherankan kerna yg mempunyai hajat seorang pengusaha kaya raya.
Sepasang mempelai duduk di pelaminan. Wajah mempelai putri berseri seri penuh kebahagiaan. Namun wajah mempelai lelaki kelihatan murung dan sendu. Senyum yg menghiasi wajah Djohan bukan cetusan kebahagiaan dari hati nuraninya, melainkan senyum paksaan. Tak akan ada yg tahu perasaan yg terkandung di dalam dada lelaki itu. Dia disergap sergap kepedihan yg tak terkirakan. Ingat istrinya yg terbaring di atas tempat tidur dengan berlinangan air mata.
Sebelum pesta usai, kedua mempelai itu sudah meninggalkan gedung pertemuan. Djohan mengusulkan pada kedua orang tua Rita dengan alasan badannya kurang sehat. Tapi tanggapan kedua orang tua Rita seolah olah mengerti. Pasti Djohan sudah tak sabar menunggu pesta usai. Agar bisa cepat cepat beranjak keperaduan menikmati indahnya malam pertama.
*****
Sabtu, 01 Januari 2011
Kurengkuh Duka Nestapamu! 12
Setelah Rita pergi dari rumah Marina. Djohan masih memeluk istrinya yg menangis dipelukannya.
"Marina...kau tetap mencintai aku, bukan?" tanya Djohan.
"Abaaaang!" pekik Marina tertahan. Dipeluknya Djohan erat erat sambil menangis pilu. Ingin melampiaskan rasa pedih di hatinya dengan isak tangis yg berkepanjangan.
"Aku tak ingin berpisah denganmu, sayang," Djohan tak kuasa membendung air matanya. Setitik air bening jatuh di pipinya.
"Apakah kebahagiaan kita akan segera hancur, bang?"
"Tak! Kita akan tetap mempertahankannya. Kita akan tetap bersama selalu walaupun badai akan menyerang. Aku sangat mencintaimu, Marina. Aku tak ingin berpisah denganmu," kata Djohan sedih sekali.
"Tapi, abang tak bisa menolak perkawinan itu. Abang akan segera menikah dengan Rita dan meninggalkan aku," ratap Marina memilukan.
"Jangan katakan itu, Marina. Hatiku pedih sekali."
"Tapi demi cintaku, aku merelakan abang menikah dengan Rita. Abang harus membalas kebaikan budi mereka."
"Marina...cukup sayang. Cukup. Jangan buat hatiku semakin pedih," pinta Djohan dengan air mata bercucuran.
"Tapi hal itu harus abang jalani. Demi masa depan abang. Keadaan akan menyusahkan abang, kerna abang telah memakai uang perusahaan. Mereka bisa menjebloskan abang ke dalam penjara," kata Marina sedih.
Sepasang suami istri yg dilanda kesedihan ini saling berpelukan erat erat. Menangis pilu bersama sama. Menangisi kebahagiaan yg sudah mendekati kehancuran. Mereka bagaikan insan yg sudah tak mempunyai kekuatan lagi.
*****
Marina telah kehilangan gairah hidup lagi. Tak ada gairah mengurus pekerjaan rumah tangga. Tak gairah menyirami taman. Tak ada gairah merias diri. Pekerjaan setiap hari hanya duduk termenung dengan berlinangan air mata.
Yg dirasakan kini hanya kepedihan hati dan kesepian yg selalu mengikuti setiap saat. Djohan sudah lima hari tak kembali. Malam malam yg dilalui Marina hanya menangis di atas tempat tidur. Menangisi nasibnya yg malang. Kebahagiaan yg tercipta telah musnah direnggut balas budi.
Marina tak menduga kalau akhirnya impiannya terbalut empedu. Tak menduga kalau Djohan menempuh jalan hidupnya penuh liku liku tak seindah warna aslinya. Sekarang Marina baru tahu jika Djohan bukan putra keluarga Burnama yg kaya raya itu. Dia tak lebih dari benalu yg tumbuh subur di dalam keluarga Burnama. Mendapat tempat yg istimewa kerna bisa di harapkan menjadi anak menantu. Mengakhiri masa remaja anak gadisnya yg sudah menjadi perawan tua.
Hancurlah segala harapan bahagia. Yg ada hanya kepalsuan. Djohan menjual dirinya hanya untuk membalas budi. Tapi Marina tak kuasa melakukan apapun, selain meratap dalam kepedihan. Kehidupan yg disuguhkan Djohan kini telah berubah menjadi empedu. Hampir membuat Marina gila sebelum kehancuran itu terjadi. Merasakan kehidupan ini terlampau kejam.
Mata itu begitu sendu. Air yg bening selalu membasahi pipi. Kepedihan senantiasa membilas bilas hatinya. Hidup tanpa gairah, matipun enggan. Itulah yg dialami Marina sejak Djohan tak pernah kembali. Baginya hanya ada satu tempat mengadu. Hanya Nina. Ya, hanya Nina tempat satu satunya untuk mengadu. Dalam keadaan apapun. Marina tak ingin menceritakan segala kepahitannya kepada orang tuanya. Dia merasa tak ingin membebankan penderitaan itu. Kerna segala sesuatunya Marina lebih baik menanggungnya sendiri.
*****
Apa ekk pendapat kawan kawan semua tentang cite saya??
1.membosankan.
2.biasa saje.
"Marina...kau tetap mencintai aku, bukan?" tanya Djohan.
"Abaaaang!" pekik Marina tertahan. Dipeluknya Djohan erat erat sambil menangis pilu. Ingin melampiaskan rasa pedih di hatinya dengan isak tangis yg berkepanjangan.
"Aku tak ingin berpisah denganmu, sayang," Djohan tak kuasa membendung air matanya. Setitik air bening jatuh di pipinya.
"Apakah kebahagiaan kita akan segera hancur, bang?"
"Tak! Kita akan tetap mempertahankannya. Kita akan tetap bersama selalu walaupun badai akan menyerang. Aku sangat mencintaimu, Marina. Aku tak ingin berpisah denganmu," kata Djohan sedih sekali.
"Tapi, abang tak bisa menolak perkawinan itu. Abang akan segera menikah dengan Rita dan meninggalkan aku," ratap Marina memilukan.
"Jangan katakan itu, Marina. Hatiku pedih sekali."
"Tapi demi cintaku, aku merelakan abang menikah dengan Rita. Abang harus membalas kebaikan budi mereka."
"Marina...cukup sayang. Cukup. Jangan buat hatiku semakin pedih," pinta Djohan dengan air mata bercucuran.
"Tapi hal itu harus abang jalani. Demi masa depan abang. Keadaan akan menyusahkan abang, kerna abang telah memakai uang perusahaan. Mereka bisa menjebloskan abang ke dalam penjara," kata Marina sedih.
Sepasang suami istri yg dilanda kesedihan ini saling berpelukan erat erat. Menangis pilu bersama sama. Menangisi kebahagiaan yg sudah mendekati kehancuran. Mereka bagaikan insan yg sudah tak mempunyai kekuatan lagi.
*****
Marina telah kehilangan gairah hidup lagi. Tak ada gairah mengurus pekerjaan rumah tangga. Tak gairah menyirami taman. Tak ada gairah merias diri. Pekerjaan setiap hari hanya duduk termenung dengan berlinangan air mata.
Yg dirasakan kini hanya kepedihan hati dan kesepian yg selalu mengikuti setiap saat. Djohan sudah lima hari tak kembali. Malam malam yg dilalui Marina hanya menangis di atas tempat tidur. Menangisi nasibnya yg malang. Kebahagiaan yg tercipta telah musnah direnggut balas budi.
Marina tak menduga kalau akhirnya impiannya terbalut empedu. Tak menduga kalau Djohan menempuh jalan hidupnya penuh liku liku tak seindah warna aslinya. Sekarang Marina baru tahu jika Djohan bukan putra keluarga Burnama yg kaya raya itu. Dia tak lebih dari benalu yg tumbuh subur di dalam keluarga Burnama. Mendapat tempat yg istimewa kerna bisa di harapkan menjadi anak menantu. Mengakhiri masa remaja anak gadisnya yg sudah menjadi perawan tua.
Hancurlah segala harapan bahagia. Yg ada hanya kepalsuan. Djohan menjual dirinya hanya untuk membalas budi. Tapi Marina tak kuasa melakukan apapun, selain meratap dalam kepedihan. Kehidupan yg disuguhkan Djohan kini telah berubah menjadi empedu. Hampir membuat Marina gila sebelum kehancuran itu terjadi. Merasakan kehidupan ini terlampau kejam.
Mata itu begitu sendu. Air yg bening selalu membasahi pipi. Kepedihan senantiasa membilas bilas hatinya. Hidup tanpa gairah, matipun enggan. Itulah yg dialami Marina sejak Djohan tak pernah kembali. Baginya hanya ada satu tempat mengadu. Hanya Nina. Ya, hanya Nina tempat satu satunya untuk mengadu. Dalam keadaan apapun. Marina tak ingin menceritakan segala kepahitannya kepada orang tuanya. Dia merasa tak ingin membebankan penderitaan itu. Kerna segala sesuatunya Marina lebih baik menanggungnya sendiri.
*****
Apa ekk pendapat kawan kawan semua tentang cite saya??
1.membosankan.
2.biasa saje.
Kurengkuh Duka Nestapamu! 11
Dua malam Djohan tak pulang kerumah Marina. Lelaki itu seperti terkurung dalam sangkar emas yg menyakitkan hati dan perasaan.
Terbelenggu dalam nestapa. Sedangkan Marina di rumah menunggu kapan sang suami balik. Tak hanya sekedar menunggu saja. Melainkan juka tersiksa oleh kerisauan. Menduga duga barangkali terjadi kemalangan yg menimpa diri suaminya.
Apa yg dialami Marina sekarang serba tak menentu. Duduk salah, berdiri gelisah, tidurpun risau. Dia hanya bisa mengurangi perasaan yg tak menentu itu dengan berjalan mondar mandir di dalam rumah.
Di luar sebuah kereta berhenti. Marina melihat melalui jendela ruang tamu. Ternyata yg dilihat bukan suaminya yg datang. Melainkan gadis yg tak di kenalnya kemarin. Ada apa? Mungkin gadis itu akan memberi tahu kejadian yg menimpa Djohan, pikir Marina dengan gelisah.
Rita melangkah menuju teras rumah. Sebelum tiba diambang pintu, Marina sudah menyambutnya. Sambutan yg ramah dengan tak meninggalkan seulas senyum bersahabat.
"Silahkan masuk, cik,"
Rita langsung masuk dan duduk di kursi sambil menatap Marina tajam. Tatapan Rita membuat Marina risau.
"Sudah bertemu Abang Djohan?" tanya Marina lunak.
"Untuk selamanya Djohan akan tinggal bersama kami!" tutur Rita.
Ucapan Rita mengejutkan Marina. Sungguh aneh gadis ini. Siapakah sebenarnya gadis ini pikir Marina. Apa hubungannya dengan abang Djohan.
"Apakah saya tak salah dengar apa yg baru saja cik katakan?" tanya Marina bingung.
"Saya tak nak mengatakan sembarangan sebelum kau mengenal Djohan, mengenal pribadi dan keadaannya, akulah yg lebih dulu tahu. Tahu siapa sebenarnya Djohan. Genap empat tahun Djohan ikut keluarga kami. Dahulu Djohan kami temukan sebagai orang perantauan yg tak punya tempat tinggal. Tak punya kedudukan. Dia tak lebih dari seorang buruh pelabuhan dan penyelundup. Keluarga Burnama menarik Djohan dari kehidupan miskin yg senantiasa mencari nafkah dengan jalan hitam. Sebagai penyelundup dan tukang tadah barang barang gelap."
Marina dilanda perasaan risau dan bingung. Apa yg dikatakan Rita merupakan pukulan berat bagi batinnya. Namun Marina tak lekas percaya dengan apa yg dikatakan gadis itu.
"Apa hubungan cik dengan Abang Djohan?"
"Saya calon istri Djohan. Sayalah anak tuan Burnama yg menarik Djohan menjadi manusia terpandang dan mempunyai kedudukan.
Seketika tubuh Marina bagai tak bertulang lagi. Hilang daya kekuatan dalam dirinya. Dia terhenyak di tempat duduk.
"Tak mungkin...," gumam Marina. Kedua mata Marina berkaca kaca.
"Bagaimana tak mungkin? Kau bisa melihat kenyataan itu. Djohan membelikan rumah ini dengan segala perabotan yg mewah memakai uang perusahaan. Sedangkan perusahaan itu milik ayahku. Dia telah melakukan tindak pidana korupsi!" kata Rita mantap.
"Ooooh... Tuhan," keluh Marina kehilangan daya pikir lagi.
Sebuah kereta berhenti di depan rumah. Djohan nampak terburu buru berjalan masuk di halaman. Pandangan Marina kabur dapat menangkap kehadiran Djohan di ambang pintu.
"Nak apa kau ke sini, Rita?!" tegur Djohan emosi.
"Aku memberi tahu keadaan yg sebenarnya."
"Untuk apa?!"
"Untuk menjelaskan bahwa kita akan menikah secepatnya."
"Kau telah menyakiti hati Marina!" bentak Djohan.
Sementara itu Marina tak dapat lagi membendung tangisnya. Keterangan yg baru saja di katakan Rita telah menghancurkan hatinya. Djohan akan segera menikah dengan Rita. Rupanya inilah yg sering dikatakan Djohan, bila kebahagiaan mereka akan dihancurkan. Ternyata sekarang terbukti.
Djohan sangat iba melihat istrinya yg menangis terisak isak. Segera dipeluknya tubuh Marina. Mendekapnya erat erat.
"Kau kejam!" geram Djohan sambil menunjuk muka Rita.
"Kau tak tahu diri! Tanpa aku tak mungkin kau menjadi orang terpandang dan hidup kaya raya seperti ini. Kau akan tetap menjadi gembel yg setiap waktu menjadi buruan polisi," balas Rita tak kalah berangnya.
"Kau telah menginjak injak harga diriku, Rita!" ucap Djohan.
"Aku yg membujuk papa agar kau diberikan kepercayaan dan bisa menjadi pekerja tetap di kantor. Aku terus membujuk papa supaya kau diberi kesempatan untuk kursus management. Dan mengusulkan untuk dijadikan wakil direktur. Terus menjadi seorang direktur. Di berikan kuasa penuh memegang perusahaan. Tanpa bantuanku kau tak akan bisa seperti sekarang ini. Tapi kau tak tahu diri. Membalas air susu dengan air tuba. Tak menyadari dari mana asalmu!" tutur Rita menyakitkan.
"Cukuuuup!" teriak Djohan histeris.
Marina yg berada di pelukan Djohan menangis pilu. Hinaan Rita merobek robek hati dan perasaannya.
"kau telah mengkhianati kebaikan budi kedua orang tuaku. Tetap kau langgar larangan mereka menikah dengan perempuan itu! Perbuatanmu semakin membabi buta. Kau korupsi uang perusahaan ayahku guna membelikan rumah dengan segala isinya yg serba mewah. Setelah itu apalagi yg akan kau perbuat demi membahagiakan istrimu itu!"
"Diaaam!" pergiii kau dari rumah ini, sebelum kulempar ke luar!" teriak Djohan.
Rita bergegas meninggalkan Ruangan itu sambil berjalan dia mengutuk Djohan.
*****
Terbelenggu dalam nestapa. Sedangkan Marina di rumah menunggu kapan sang suami balik. Tak hanya sekedar menunggu saja. Melainkan juka tersiksa oleh kerisauan. Menduga duga barangkali terjadi kemalangan yg menimpa diri suaminya.
Apa yg dialami Marina sekarang serba tak menentu. Duduk salah, berdiri gelisah, tidurpun risau. Dia hanya bisa mengurangi perasaan yg tak menentu itu dengan berjalan mondar mandir di dalam rumah.
Di luar sebuah kereta berhenti. Marina melihat melalui jendela ruang tamu. Ternyata yg dilihat bukan suaminya yg datang. Melainkan gadis yg tak di kenalnya kemarin. Ada apa? Mungkin gadis itu akan memberi tahu kejadian yg menimpa Djohan, pikir Marina dengan gelisah.
Rita melangkah menuju teras rumah. Sebelum tiba diambang pintu, Marina sudah menyambutnya. Sambutan yg ramah dengan tak meninggalkan seulas senyum bersahabat.
"Silahkan masuk, cik,"
Rita langsung masuk dan duduk di kursi sambil menatap Marina tajam. Tatapan Rita membuat Marina risau.
"Sudah bertemu Abang Djohan?" tanya Marina lunak.
"Untuk selamanya Djohan akan tinggal bersama kami!" tutur Rita.
Ucapan Rita mengejutkan Marina. Sungguh aneh gadis ini. Siapakah sebenarnya gadis ini pikir Marina. Apa hubungannya dengan abang Djohan.
"Apakah saya tak salah dengar apa yg baru saja cik katakan?" tanya Marina bingung.
"Saya tak nak mengatakan sembarangan sebelum kau mengenal Djohan, mengenal pribadi dan keadaannya, akulah yg lebih dulu tahu. Tahu siapa sebenarnya Djohan. Genap empat tahun Djohan ikut keluarga kami. Dahulu Djohan kami temukan sebagai orang perantauan yg tak punya tempat tinggal. Tak punya kedudukan. Dia tak lebih dari seorang buruh pelabuhan dan penyelundup. Keluarga Burnama menarik Djohan dari kehidupan miskin yg senantiasa mencari nafkah dengan jalan hitam. Sebagai penyelundup dan tukang tadah barang barang gelap."
Marina dilanda perasaan risau dan bingung. Apa yg dikatakan Rita merupakan pukulan berat bagi batinnya. Namun Marina tak lekas percaya dengan apa yg dikatakan gadis itu.
"Apa hubungan cik dengan Abang Djohan?"
"Saya calon istri Djohan. Sayalah anak tuan Burnama yg menarik Djohan menjadi manusia terpandang dan mempunyai kedudukan.
Seketika tubuh Marina bagai tak bertulang lagi. Hilang daya kekuatan dalam dirinya. Dia terhenyak di tempat duduk.
"Tak mungkin...," gumam Marina. Kedua mata Marina berkaca kaca.
"Bagaimana tak mungkin? Kau bisa melihat kenyataan itu. Djohan membelikan rumah ini dengan segala perabotan yg mewah memakai uang perusahaan. Sedangkan perusahaan itu milik ayahku. Dia telah melakukan tindak pidana korupsi!" kata Rita mantap.
"Ooooh... Tuhan," keluh Marina kehilangan daya pikir lagi.
Sebuah kereta berhenti di depan rumah. Djohan nampak terburu buru berjalan masuk di halaman. Pandangan Marina kabur dapat menangkap kehadiran Djohan di ambang pintu.
"Nak apa kau ke sini, Rita?!" tegur Djohan emosi.
"Aku memberi tahu keadaan yg sebenarnya."
"Untuk apa?!"
"Untuk menjelaskan bahwa kita akan menikah secepatnya."
"Kau telah menyakiti hati Marina!" bentak Djohan.
Sementara itu Marina tak dapat lagi membendung tangisnya. Keterangan yg baru saja di katakan Rita telah menghancurkan hatinya. Djohan akan segera menikah dengan Rita. Rupanya inilah yg sering dikatakan Djohan, bila kebahagiaan mereka akan dihancurkan. Ternyata sekarang terbukti.
Djohan sangat iba melihat istrinya yg menangis terisak isak. Segera dipeluknya tubuh Marina. Mendekapnya erat erat.
"Kau kejam!" geram Djohan sambil menunjuk muka Rita.
"Kau tak tahu diri! Tanpa aku tak mungkin kau menjadi orang terpandang dan hidup kaya raya seperti ini. Kau akan tetap menjadi gembel yg setiap waktu menjadi buruan polisi," balas Rita tak kalah berangnya.
"Kau telah menginjak injak harga diriku, Rita!" ucap Djohan.
"Aku yg membujuk papa agar kau diberikan kepercayaan dan bisa menjadi pekerja tetap di kantor. Aku terus membujuk papa supaya kau diberi kesempatan untuk kursus management. Dan mengusulkan untuk dijadikan wakil direktur. Terus menjadi seorang direktur. Di berikan kuasa penuh memegang perusahaan. Tanpa bantuanku kau tak akan bisa seperti sekarang ini. Tapi kau tak tahu diri. Membalas air susu dengan air tuba. Tak menyadari dari mana asalmu!" tutur Rita menyakitkan.
"Cukuuuup!" teriak Djohan histeris.
Marina yg berada di pelukan Djohan menangis pilu. Hinaan Rita merobek robek hati dan perasaannya.
"kau telah mengkhianati kebaikan budi kedua orang tuaku. Tetap kau langgar larangan mereka menikah dengan perempuan itu! Perbuatanmu semakin membabi buta. Kau korupsi uang perusahaan ayahku guna membelikan rumah dengan segala isinya yg serba mewah. Setelah itu apalagi yg akan kau perbuat demi membahagiakan istrimu itu!"
"Diaaam!" pergiii kau dari rumah ini, sebelum kulempar ke luar!" teriak Djohan.
Rita bergegas meninggalkan Ruangan itu sambil berjalan dia mengutuk Djohan.
*****
Kurengkuh Duka Nestapamu! 10
Selesai menelph0ne Djohan Rosmari dan Burnama menghampiri anak gadisnya yg masih menangis di bilik.
"Hentikanlah menangismu, Rita." Rosmari menasehati anaknya.
"Djohan telah mengkhianati cinta, Rita. Walau apapun yg akan terjadi, Djohan harus menjadi suami Rita," kata Rita sembari terisak isak.
Burnama hanya bisa berjalan mondar mandir di dalam bilik. Sebentar sebentar memandang anak gadisnya yg menangis terisak isak.
"Tenanglah, Rita," Rosmari membelai rambut anaknya.
"Rita tak ingin berpisah dengan Abang Djohan," lanjut gadis itu.
"Tentu. Kami juga tak ingin sia sia menjadikan Djohan orang terpandang dan berhasil dalam dunia bisnis. Kalau saja kita kehilangan Djohan, berarti perusahaan kita akan jatuh. Tetap Djohan akan kami paksa menikah denganmu. Menceraikan Marina," kata Burnama tegas.
"Kalau Djohan mengelak?" tanya Rosmari.
"Dia akan kehilangan jabatan dan mungkin bisa masuk penjara. Pasti dia telah menggunakan uang perusahaan untuk membelikan rumah Marina."
Sejenak ruangan itu hening. Isak tangis Rita mulai menghilang. Dan di luar terdengar suara kereta memasuki halaman. Pasti Djohan yg datang. Wajah wajah yg ada di dalam bilik nampak demikian tegang dan menyimpan kemarahan.
Burnama dan Rosmari menyambut kedatangan Djohan di ruang tengah. Suasana yg lenggang menimbulkan firasat buruk bagi Djohan yg baru saja masuk rumah. Apalagi ditambah wajah wajah yg sedang duduk menunggu di ruang tengah.
"Selamat siang, ayah, ibu," Djohan menganggukkan kepala.
"Duduk!" perintah Burnama singkat.
Djohan duduk di kursi berhadapan dengan kedua orang tua angkatnya.
"Jangan coba coba bohong, Djohan!" tutur Burnama mengancam.
Dengan serius Djohan menghadapi apa yg akan dibicarakan Burnama. Dia sama sekali tak menduga, bahwa keadaan dirinya yg sebenarnya sudah diketahui mereka. Nampaknya Djohan masih tenang saja.
"Apa benar kau sudah menikah dengan Marina?!" tanya Burnama.
Pertanyaan Burnama mengejutkan Djohan. Meski itu pertanyaan, tapi sudah bernada tahu kepastiannya. Maka Djohan gelagapan memberikan jawaban. Dia risau dan ketakutan.
"Jawab!" bentak Burnama.
"I... iya, ayah."
Burnama melompat turun dari tempat duduk dan siap menampar muka Djohan. Rosmari buru buru mencegah tindakan suaminya.
"Sabar, pa. Segala sesuatu dapat diselesaikan dengan kepala dingin," nasehat Rosmari.
"Betapa tak tahu diri, kau! Dari dulu aku mendidikmu menjadi orang pandai dan bisa terpandang, tapi kau mengkhianati kami. Mengecewakan kami! Begitukah caramu membalas kebaikan kami?!" tutur Burnama pedas.
Ada semacam sebilah sembilu yg mengiris iris hati Djohan. Pedih sekali mendengar kata kata Burnama. Hanya yg dapat dilakukan Djohan tertunduk namun hatinya tersayat luka yg begitu pedih.
"Kau abaikan kami bagai orang yg tak berguna. Tak pernah berbuat kebaikan padamu. Kau berani melanggar nasehat kami, tetap menikah dengan Marina. Sekarang katakan, darimana kau memperoleh uang sehingga bisa membelikan rumah Marina di Pondok Indah?!" Burnama semakin emosi.
Djohan tak dapat menjawab.
"Dari mana, cepat katakan!!" bentak Burnama.
Tubuh Djohan menggigil ketakutan. Ingin mencari alasan dan mengatakan uang itu didapat dari keuntungan pribadi, namun suaranya terhenti di kerongkongannya. Seperti ada batu yg menyumbat.
"Pasti kau memakai uang perusahaan untuk membelikan rumah Marina. Jangan berusaha mengelak, Djohan. Besok akan kusuruh Rita mengecek keuangan di kantor," desak Burnama.
"Memang saya memakai uang kantor, ayah."
"Berapa yg telah kau pakai?!"
"Dua puluh lima juta."
"Bajingan kau!" teriak Burnama sembari mengangkat telapak tangan siap menampar muka Djohan. Rosmari dengan sekuat tenaga mencegah tindakan suaminya.
"Sabar, pa. Sabar...," tutur Rosmari seraya mendorong badan suaminya untuk menjauh dari Djohan.
"Sekarang tinggal kau pilih, secepatnya menikah dengan Rita atau masuk penjara!" ancam Burnama.
Tak terasa airmata Djohan jatuh perlahan lahan di pipinya. Dia harus menerima kenyataan menikah dengan Rita. Kalau tak dia akan masuk penjara dan semua barang miliknya akan disita Burnama. Termasuk rumah yg sekarang.
Langkah pergi dari hadapan kedua orang tua Rita. Langkahnya gontai, sedang hatinya tersayat sayat sembilu. Alangkah pahitnya kenyataan ini. Alangkah kejamnya hidup ini. Aku harus menebus balas budi dengan mengorbankan kebahagiaan. Membuat orang yg kucintai menderita siksaan batin. Ratap Djohan sedih sekali. Tapi garis hidup yg di tempuh Djohan memang harus demikan, dalam sesal yg berkepanjangan. Menikah dengan Rita yg sudah Perawan Tua, yang usianya lebih tua dari Djohan.
*****
kita sudah berjalan lama...:
1 tahun kebahagian;
12 bulan kedamaian;
365 hari kesuksesan;
8.760 jam cinta;
525.600 menit kasih sayang;
31.536.000 detik berkat berkat Allah.
Jika kita selamat sampai sekarang, tentu bukan kerna kita mampu, tapi kerna ALLAH BERSERTA KITA....
SELAMAT TAHUN BARU 2011
semoga di tahun 2011, kita semua bisa menjadi manusia yg lebih baik dari tahun tahun sebelumnya.
Ameen!!
"Hentikanlah menangismu, Rita." Rosmari menasehati anaknya.
"Djohan telah mengkhianati cinta, Rita. Walau apapun yg akan terjadi, Djohan harus menjadi suami Rita," kata Rita sembari terisak isak.
Burnama hanya bisa berjalan mondar mandir di dalam bilik. Sebentar sebentar memandang anak gadisnya yg menangis terisak isak.
"Tenanglah, Rita," Rosmari membelai rambut anaknya.
"Rita tak ingin berpisah dengan Abang Djohan," lanjut gadis itu.
"Tentu. Kami juga tak ingin sia sia menjadikan Djohan orang terpandang dan berhasil dalam dunia bisnis. Kalau saja kita kehilangan Djohan, berarti perusahaan kita akan jatuh. Tetap Djohan akan kami paksa menikah denganmu. Menceraikan Marina," kata Burnama tegas.
"Kalau Djohan mengelak?" tanya Rosmari.
"Dia akan kehilangan jabatan dan mungkin bisa masuk penjara. Pasti dia telah menggunakan uang perusahaan untuk membelikan rumah Marina."
Sejenak ruangan itu hening. Isak tangis Rita mulai menghilang. Dan di luar terdengar suara kereta memasuki halaman. Pasti Djohan yg datang. Wajah wajah yg ada di dalam bilik nampak demikian tegang dan menyimpan kemarahan.
Burnama dan Rosmari menyambut kedatangan Djohan di ruang tengah. Suasana yg lenggang menimbulkan firasat buruk bagi Djohan yg baru saja masuk rumah. Apalagi ditambah wajah wajah yg sedang duduk menunggu di ruang tengah.
"Selamat siang, ayah, ibu," Djohan menganggukkan kepala.
"Duduk!" perintah Burnama singkat.
Djohan duduk di kursi berhadapan dengan kedua orang tua angkatnya.
"Jangan coba coba bohong, Djohan!" tutur Burnama mengancam.
Dengan serius Djohan menghadapi apa yg akan dibicarakan Burnama. Dia sama sekali tak menduga, bahwa keadaan dirinya yg sebenarnya sudah diketahui mereka. Nampaknya Djohan masih tenang saja.
"Apa benar kau sudah menikah dengan Marina?!" tanya Burnama.
Pertanyaan Burnama mengejutkan Djohan. Meski itu pertanyaan, tapi sudah bernada tahu kepastiannya. Maka Djohan gelagapan memberikan jawaban. Dia risau dan ketakutan.
"Jawab!" bentak Burnama.
"I... iya, ayah."
Burnama melompat turun dari tempat duduk dan siap menampar muka Djohan. Rosmari buru buru mencegah tindakan suaminya.
"Sabar, pa. Segala sesuatu dapat diselesaikan dengan kepala dingin," nasehat Rosmari.
"Betapa tak tahu diri, kau! Dari dulu aku mendidikmu menjadi orang pandai dan bisa terpandang, tapi kau mengkhianati kami. Mengecewakan kami! Begitukah caramu membalas kebaikan kami?!" tutur Burnama pedas.
Ada semacam sebilah sembilu yg mengiris iris hati Djohan. Pedih sekali mendengar kata kata Burnama. Hanya yg dapat dilakukan Djohan tertunduk namun hatinya tersayat luka yg begitu pedih.
"Kau abaikan kami bagai orang yg tak berguna. Tak pernah berbuat kebaikan padamu. Kau berani melanggar nasehat kami, tetap menikah dengan Marina. Sekarang katakan, darimana kau memperoleh uang sehingga bisa membelikan rumah Marina di Pondok Indah?!" Burnama semakin emosi.
Djohan tak dapat menjawab.
"Dari mana, cepat katakan!!" bentak Burnama.
Tubuh Djohan menggigil ketakutan. Ingin mencari alasan dan mengatakan uang itu didapat dari keuntungan pribadi, namun suaranya terhenti di kerongkongannya. Seperti ada batu yg menyumbat.
"Pasti kau memakai uang perusahaan untuk membelikan rumah Marina. Jangan berusaha mengelak, Djohan. Besok akan kusuruh Rita mengecek keuangan di kantor," desak Burnama.
"Memang saya memakai uang kantor, ayah."
"Berapa yg telah kau pakai?!"
"Dua puluh lima juta."
"Bajingan kau!" teriak Burnama sembari mengangkat telapak tangan siap menampar muka Djohan. Rosmari dengan sekuat tenaga mencegah tindakan suaminya.
"Sabar, pa. Sabar...," tutur Rosmari seraya mendorong badan suaminya untuk menjauh dari Djohan.
"Sekarang tinggal kau pilih, secepatnya menikah dengan Rita atau masuk penjara!" ancam Burnama.
Tak terasa airmata Djohan jatuh perlahan lahan di pipinya. Dia harus menerima kenyataan menikah dengan Rita. Kalau tak dia akan masuk penjara dan semua barang miliknya akan disita Burnama. Termasuk rumah yg sekarang.
Langkah pergi dari hadapan kedua orang tua Rita. Langkahnya gontai, sedang hatinya tersayat sayat sembilu. Alangkah pahitnya kenyataan ini. Alangkah kejamnya hidup ini. Aku harus menebus balas budi dengan mengorbankan kebahagiaan. Membuat orang yg kucintai menderita siksaan batin. Ratap Djohan sedih sekali. Tapi garis hidup yg di tempuh Djohan memang harus demikan, dalam sesal yg berkepanjangan. Menikah dengan Rita yg sudah Perawan Tua, yang usianya lebih tua dari Djohan.
*****
kita sudah berjalan lama...:
1 tahun kebahagian;
12 bulan kedamaian;
365 hari kesuksesan;
8.760 jam cinta;
525.600 menit kasih sayang;
31.536.000 detik berkat berkat Allah.
Jika kita selamat sampai sekarang, tentu bukan kerna kita mampu, tapi kerna ALLAH BERSERTA KITA....
SELAMAT TAHUN BARU 2011
semoga di tahun 2011, kita semua bisa menjadi manusia yg lebih baik dari tahun tahun sebelumnya.
Ameen!!
Langganan:
Postingan (Atom)